setting

My Story : ARDILES: BELAJAR CINTA DARI PEMILIK KEBESARAN SA’ID BIN AMIR

BELAJAR CINTA DARI PEMILIK KEBESARAN SA’ID BIN AMIR



BELAJAR CINTA DARI PEMILIK KEBESARAN SA’ID BIN AMIR
By. Ardiles

“Merekalah yang mendapat yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q.S Al- Baqarah:5)”.

            Manusia kadang begitu hanyut dan terlena akan keindahan. Keindahan akan dunia seringkali membuat manusia lupa akan dirinya, lupa akan hakikatnya bahkan lupa akan penciptaannya, bahkan manusia lupa akan akhirat, dan lupa akan keberadaan surga. “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (Q.S Al Fajr :20 )”. Jika Allah menetapkan tingkat keindahan itu menjadi 100, maka tingkat keindahan dunia ini hanya pada tingkat 1, sedangkan tingkat keindahan lainya, yaitu sebesar 99 tingkat ada di akhirat sana, yaitu surga Allah SWT, tidakkah kita ingin melihat keindahan itu?
            Akan tetapi, kita sebagai manusia seringkali lupa diri, bahkan tidak jarang nafsu mendahului akal dan hati kita. Bukankah Allah telah mengganugrahkan kepada kita akal untuk berpikir dan menempatkannya di tempat yang paling tinggi di tubuh kita, tepatnya di kepala kita. Namun, kita seringkali menghinakan diri kita setelah Allah menjadikan dan menempatkan kita sebagai makhluk yang paling mulia dari makhluk lainnya. Kita seringkali terlena akan kecintaan kita pada dunia, dan melupakan Allah. Bukankah Allah SWT telah berfirman, yang artinya “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga) (Q.S Ali Imran : 14)”.Sadarkah kita bahwa Allah telah menjanjikan tempat yang lebih baik dan mulia daripada keindahan yang hanya kita dapatkan di dunia?
“yang demikian itu, disebabkan kerana sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaun yang kafir ( Q. S An Nahl : 107)”.
Marilah kita belajar kecintaan dan ketakwaan kepada seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Sa’id Amir, suatu ketika Sa’id Bin Amir diberikan beban dan tanggungjawab pada masa kekhalifaan Umar Bin Khathathab, beliau ditunjuk untuk menjadi gubernur di wilayah Syam. Maka berangkatlah Sa’id  ke Hims, dengan ditemani istrinya. Keduanya pada saat itu masih pengantin baru. Semenjak kecil istrinya adalah wanita yang amat cantik. Sebelum keberangkatan khalifah membekali mereka dengan harta yang cukup. Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, sang istri bermaksud menggunakan harta yang diberikan khalifah sebagai bekal mereka. Ia meminta suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumag tangga, lalu menyimpan sisanya.
Sa’id berkata, “maukah kamu aku tunjukan yang lebih baik dari rencanamu itu?  
Kita sekarang berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta ini lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita akan berkembang”.
Sang Istri bertanya, “bagaimana jika rugi ?”.
Sa’id menjawab, “aku akan sediakan jaminan”.
“baiklah kalau begitu,” kata sang istri menyetujui.
Kemudian Sa’id pergi membeli sebagaian keperluan hidup dari jenis yang amat bersehaja. Lalu uang lainnya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan membutuhkan.
Hari-hari pun berlalu. Dari waktu ke waktu sang istri menanyakan perdagangan mereka dan sudah berapa keuntungan yang didapatkan.
Sa’id menjawab, “bisninsnya lancar, dan keuntungannya terus meningkat”.
Suatu hari, sang istri mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum dan tertawa, sehingga sang istripun curiga. Ia mendesak Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya.
Sa’id berkata, “semua harta sudah aku sedekahkan”.
Wanita itupun lalu menangis. Ia menyesal karena tidak jadi membeli keperluannya, dan harta itupun tidak tersisa.
Sa’id memandangi istrinya yang sedang menangis. Tetes air mata yang  membasahi pipi, menambah kecantikan wajah sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan sang istri yang benar-benar mempesona, ia mengalihkan pandangan ke surga. Di sana, rekan-rekannya sudah menikmati apa yang tersedia di surga.
Ia berkata, “rekan-rekanku telah mendahuluiku menemui Allah. Aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walaupun ditukar dengan dunia dan segala isinya”.
Karena takut akan tergoda kecantikan istrinya itu, maka ia berkata yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya,
dik, kau kan tahu bahwa di surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andaikan saja satu dari mereka menampakan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruh bumi. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu”.
Pembicaraan itupun berakhir seperti saat sebelum dimulai, tenang, penuh senyum dan kerelaan. Sang istripun sadar bahwa tiada yang lebih utama baginya kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya : zuhud dan ketakwaan. Subhanallah. Maka balasan yang di dapatkan Sa’id adalah, yaitu Surga Adn tempat yang dijanjikan Allah, surga untuk hamba-hambanya yang bertakwa.
“itulah surga akan kami wariskan kepada kepada hamba-hamba kami yang selalu bertakwa (Q.S Maryam :6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai