PENUH
KEPATUHAN DAN KETAATAN DAKWAH ISLAM
“Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai
dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau. Demi Allah, jika
engkau terhalang lautan bersama kami, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu
kami juga akan terjun bersama engkau.”(Sa’d Bin Mu’adz)
Suasana
hari-hari itu semakin rawan, dan keadaanpun semakin mencekam. Semuanya yang
akan terjadi tak dapat diduga-duga. Perang besar akan terjadi, dan tak ada kata
untuk berbalik ataupun mundur. Semuanya akan dipertaruhkan secara mati-matian
dalam perang ini. Tampak sebagian sahabat pada saat itu tak dapat
menyembunyikan rasa takut dan merasa kecil hatinya untuk terjun di medan
pertempuran. Dan golongan inilah yang diisyaratkan Allah swt dalam firman-Nya :
“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran,
padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak
menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa meraka
pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka
melihat (sebab-sebab kematian itu).” (Al-Anfal: 5-6)
Sedangkan
para komandan pasukan muslim dari kaum Muhajirin pada hari itu, seperti Abu
Bakar dan Umar bin Al-Khaththab sama sekali tidak merasa gentar, sama sekali
tidak mengendor dan sudah bersiap untuk terus maju. Saat detik-detik keyakinan
terasa rapuh, saat keimanan serasa goyah, lalu tampillah seorang sahabat, yakni
Al-Miqdad bin Amr yang kemudian berdiri dan dengan lantang serasa berkata, “Wahai Rasulullah, maju terus seperti yang
diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami
tidak akan berkata kepada engkau sebagai mana Bani Israel yang berkata kepada
Musa, ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-Mu lalu berperanglah kalian berdua.
Sesungguhnya kami ingin duduk menanti saja’. Tetapi pergilah engkau sendiri
bersama Rabb-Mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan
berperang bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran,
andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun
siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa mencapai tempat itu”.
Semantara,
tiga komandan pasukan dari kaum Muhajirin telah menyampaikan tekad dan pendapat
mereka. Maka, Rasulullah saw juga ingin mendengar pendapat para komandan
Anshar. Sebab kaum Anshar adalah jumlah mayoritas dalam pasukan. Terlebih lagi
beban perperangan pasti akan membebeani pundak-pundak mereka. Sementara dalam klausal
Baiat Aqabah tidak mengharuskan mereka ikut perperangan di luar perkempungan
meraka. Sesungguhnya kaum Anshar bisa saja berlepas diri dan tidak ikut serta
dalam perperangan. Mereka bisa saja meminta izin dan pulang. Namun, tidak demikian.
Takala
itu berkatalah Sa’d Bin Mu’adz kepada Rasulullah saw “kami beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah
bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan
sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah
seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran,
andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam
lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami
yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama
kami. Sesungguhnya kami dikenal orang-orang yang sabar dalam perperangan dan
jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri
kami, apa yang engkau senangi. Maka, majulah bersama kami dengan barakah Allah.”
Sedangkan
dalam riwayat lain, Sa’d berkata “…….apa
pun yang engkau ambil dari kami, maka itu lebih kami sukai daripada apa yang
engkau tinggalkan bagi kami. Apa pun yang engkau perintahkan, maka urusan kami
hanyalah mengikuti perintah engkau. Demi Allah, jika engkau maju hingga
mencapai dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau. Demi
Allah, jika engkau terhalang lautan bersama kami, lalu engkau terjun ke lautan itu,
tentu kami juga akan terjun bersama engkau.”
Rasulullah
saw merasa gembira dengan apa yang disampaikan oleh Sa’d dan semangatnya yang
menggebu-gebu. Maka, beliau bersabda, “majulah
kalian dan terimalah khabar gembira, karena Allah telah menjanjikan salah satu
dari dua pihak kepadaku. Demi Allah, seakan-akan saat ini aku bisa melihat
tempat kematian meraka.”
Perjalananpun
dilanjutkan, berjalanlah Rasulullah saw meninggalkan Dzafiran. Dan para pasukan
muslimin dengan penuh kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
bergegas menuju Badr, tak gentar menyongsong kematian di depan mata. Beginilah
seharusnya dakwah kita, kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
adalah hal yang utama dalam menenggakan dan mensyiarkan agama islam. Semoga
Allah teguh dan berkahi setiap langkah dan perjuangan dakwah. Amiiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar