Pages

Jumat, 12 Desember 2014

PENUH KEPATUHAN DAN KETAATAN DAKWAH ISLAM

PENUH KEPATUHAN DAN KETAATAN DAKWAH ISLAM

Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau. Demi Allah, jika engkau terhalang lautan bersama kami, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu kami juga akan terjun bersama engkau.”(Sa’d Bin Mu’adz)
Suasana hari-hari itu semakin rawan, dan keadaanpun semakin mencekam. Semuanya yang akan terjadi tak dapat diduga-duga. Perang besar akan terjadi, dan tak ada kata untuk berbalik ataupun mundur. Semuanya akan dipertaruhkan secara mati-matian dalam perang ini. Tampak sebagian sahabat pada saat itu tak dapat menyembunyikan rasa takut dan merasa kecil hatinya untuk terjun di medan pertempuran. Dan golongan inilah yang diisyaratkan Allah swt dalam firman-Nya :
“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa meraka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (Al-Anfal: 5-6)
Sedangkan para komandan pasukan muslim dari kaum Muhajirin pada hari itu, seperti Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab sama sekali tidak merasa gentar, sama sekali tidak mengendor dan sudah bersiap untuk terus maju. Saat detik-detik keyakinan terasa rapuh, saat keimanan serasa goyah, lalu tampillah seorang sahabat, yakni Al-Miqdad bin Amr yang kemudian berdiri dan dengan lantang serasa berkata, “Wahai Rasulullah, maju terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagai mana Bani Israel yang berkata kepada Musa, ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-Mu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti saja’. Tetapi pergilah engkau sendiri bersama Rabb-Mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa mencapai tempat itu”.
Semantara, tiga komandan pasukan dari kaum Muhajirin telah menyampaikan tekad dan pendapat mereka. Maka, Rasulullah saw juga ingin mendengar pendapat para komandan Anshar. Sebab kaum Anshar adalah jumlah mayoritas dalam pasukan. Terlebih lagi beban perperangan pasti akan membebeani pundak-pundak mereka. Sementara dalam klausal Baiat Aqabah tidak mengharuskan mereka ikut perperangan di luar perkempungan meraka. Sesungguhnya kaum Anshar bisa saja berlepas diri dan tidak ikut serta dalam perperangan. Mereka bisa saja meminta izin dan pulang. Namun, tidak demikian.
Takala itu berkatalah Sa’d Bin Mu’adz kepada Rasulullah saw “kami beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhnya kami dikenal orang-orang yang sabar dalam perperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka, majulah bersama kami dengan barakah Allah.”
Sedangkan dalam riwayat lain, Sa’d berkata “…….apa pun yang engkau ambil dari kami, maka itu lebih kami sukai daripada apa yang engkau tinggalkan bagi kami. Apa pun yang engkau perintahkan, maka urusan kami hanyalah mengikuti perintah engkau. Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau. Demi Allah, jika engkau terhalang lautan bersama kami, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu kami juga akan terjun bersama engkau.”
Rasulullah saw merasa gembira dengan apa yang disampaikan oleh Sa’d dan semangatnya yang menggebu-gebu. Maka, beliau bersabda, “majulah kalian dan terimalah khabar gembira, karena Allah telah menjanjikan salah satu dari dua pihak kepadaku. Demi Allah, seakan-akan saat ini aku bisa melihat tempat kematian meraka.”
Perjalananpun dilanjutkan, berjalanlah Rasulullah saw meninggalkan Dzafiran. Dan para pasukan muslimin dengan penuh kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bergegas menuju Badr, tak gentar menyongsong kematian di depan mata. Beginilah seharusnya dakwah kita, kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah hal yang utama dalam menenggakan dan mensyiarkan agama islam. Semoga Allah teguh dan berkahi setiap langkah dan perjuangan dakwah. Amiiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar