SERIBU TAHUN LAMANYA
Seribu tahun lamanya…
Masih teringat jelas dalam
ingatan, beberapa tahun lalu seorang sahabat berkata “siapkanalah 1.000 (seribu) tahun sebelum anakmu lahir”. Bahkan
kata-kata itu masih menghujam kuat di dalam dada dan ingatan. Bagaimana mungkin
waktu seribu tahun yang perlu disiapkan. Sedangkan umur manusia saja, tidak
mungkin mencapai masa itu untuk saat ini. Dan bagaimana mungkin keadaan fisik
tubuh ini jika memang pada saat itu siap menikah?
Ntahlah, apa maksud salah seorang
sahabat tersebut berkata demikian. Dan yang jelas, aku tidak begitu mengerti
jalan pikirannya pada saat itu. Jauh, bahkan setelah dua tahun lamannya aku
membiarkan ia bernaung di dalam pikiran. Ternyata apa yang beliau katakana ada
benarnya. Memang tidak mudah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan
dengan rumah tangga, terlebih untuk kehadiran seorang anaka.
Aku tahu, bahkan waktu seribu tak
akan pernah cukup untuk menyiapkan. Dan aku pun tak pernah tahu, bagaimana
jalan cerita peradaban dunia ini di masa yang akan datang. Ntahkah, diri ini
masih bernaung dan Allah izinkan untuk menatap dunia, menatap masa depan dan
juga menjadi bagian dari generasi yang akan mewarnai dunia ini dengan cahaya
Islam. Sungguh hanya Allah saja yang tahu, dan hanya Allah saja yang punya
kuasa atas segala sesuau yang terjadi pada diri ini.
Sungguh, aku tidak akan pernah
tahu bagaimana batas umurku, dan aku juga tidak akan pernah tahu apa aku akan
menikah dan juga memiliki anak-anak yang nantinya akan menjadi perhiasan,
menjadi mahkota kebanggaan keluarga kecilku. Aku tak pernah tahu, apakah aku
akan tetap hidup menantap esok hari, menantap matahari di senja hari,
menghirup dan menikmati sejuknya udara
dan masih mampu menikmati gemerlap bintang yang menghiasi langit.
Ntahlah, aku tak pernah tahu apakah
aku akan hidup, dalam masa satu tahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun
atau limapuluh tahun yang akan datang. Sedangkan di satu sisi aku ingin
menyiapkan anak-anak yang ku impi dan harapkan.
Membayangkan dan mengingat-ingat
butir-butir dosa diri ini demikian melimpah ruahnya. Kadangku bertanya dalam
diamku, apakah mungkin aku mampu dna bisa menjadi orangtua yang baik? Dan
bagaimana bisa aku menjadi ayah dan teladan yang baik bagi anak-anakku nanti?
Detik waktu terus berlalu, aku
tak menyangka. Detik ini umurku sudah beranjak 23 tahun. Dan tak lama lagi juga
akan beranjak ke umur 25 tahun. Umur dimana aku ingin menikah seperti layaknya
Rasulullah menikah. Aku tahu, bahkan masa-masaku adalah masa produktif dan
tepat untuk menikah lalu membina sebuah keluarga. Masa-masa dimana teman-teman
sebayaku telah menunaikannya.
Bahkan, selalu saja terbayang
olehku beberapa teman-temanku yang telah menikah. Bagaimana lucu-lucu, cantik
dan tampan anak-anak mereka. Membayangkannya saja aku sudah begitu senang,
apalagi jika Allah izin dan berkahi aku dengan permata keindahan penyejuk mata
dan jiwa pula nantinya, bagaimana tidak bahagia memiliki permata keindahan
cinta, buah hati yang nanti kan ku bangga dan ku persaksikan kepada Allah dan
Rasulullah.
Seribu tahun lamanya, aku
mengerti kenapa butuh waktu seribu tahun. Karena memang tidak mudah membina dan
mendidik seorang anak, anak-anak yang akan menjadi jalan penuntun surga. Bahkan
jikapun mampu ku tempuh, akan ku tempu. Karena ku ingin memiliki anak-anak yang
jauh lebih baik dariku, bahkan berjuta-juta lebih baik dari aku ayahnya. Aku
ingin mereka nantinya, yang Allah berkahi dan amanahkan untukku menjadi
penuntut-penutut ilmu yang gigih, yang menjadi generasi yang akan menegakan
panji-panji Islam di negeri ini. Aku ingin mereka menjadi anak-anak yang tanguh
memperjuangkan agama Rabb-ku, agama yang telah ditegakkan jauh sebelumnya oleh
Rasulullahswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar