setting

My Story : ARDILES: Anakku

Anakku

ANAKKU
By. Ardiles

Teruntuk yang sedang merindu, terutama yang merindukan orang-orang yang teramat ia cintai di dalam hidupnya, Ayah, ibu, adik perempuan atau laki-laki ataupun saudara dan saudari perempuanya, terlebih sahabat yang ia cintai layaknya seperti saudara. Dan kerinduan yang terpendam buat kekasih hati, sang perekat cinta, teruntuk jiwa pelengkap jiwa ini (Anakku).
 “hari ini, umurku baru beranjak 22 tahun, masih muda sekali. Namun sayang sekali belum ada sesuatu hal yang berarti yang mampu ku lakukan, belum sama sekali memberi manfaat kepada yang lainnya. Hari ini, terbayang wajahmu, tergiang tangismu dalam tidur dan sujud ketika memanjatkan doa, terbayang wajahmu ketika melihat anak kecil sebayamu. Tangismu, rengekkanmu, tawamu, senyummu, cekikikanmu, oh membuatku merindukan wahai anakku. Sungguh aku merindukanmu anakku, merindukanmu dalam penantian yang panjang. Merindukan dalam dekapan layaknya Ayahku (kakekmu) memeluk dan mencium keningku dengan mesra. Aku belajar bersabar dalam menantimu, sungguh satu hal yang perlu ku persiapkan jauh sebelum engkau lahir adalah menjadi seorang laki-laki yang mampu mengajarkan kemesraan dan keromantisan dalam mencinta Rabb dan Rasulmu.  Sungguh, hidup seribu (1000) tahun taklah cukup mempersiapkan segala hal sebelum engkau lahir.

Anakku,
Yang wajahnya membias keimanan, yang wajahnya lucu tak terperih dan terbanyangkan lekukan ruas dan bentuk wajah dan tubuhmu, aku merindukanmu. Sungguh, hanya dengan merindukanmu membuatku mengerti dan memahami betapa ku harus menghormati dan mencintai ayah dan ibuku (kakek dan nenekmu). Sungguh hanya dengan merindukanmu aku mengerti betapa Ayah dan Ibuku (kakek dan nenekmu) sungguh berarti di dalam hidupku.
Anakku,
Yang isak tangisnya senangtiasa gemuruh ditangah kamar kecil dan ayunan rotan, aku mencintaimu. Sungguh, hanya dengan pengertian dan penantian panjang aku mengerti betapa ayah dan Ibuku (kakek dan nenekmu) begitu mencintaiku.
Anakku,
Pernah suatu ketika, saat masa-masa ayahmu ini, masih kecil dan teramat masih membutuhkan belain kasih sayang, ayah dan Ibuku (kakek dan nenekmu) selalu hadir menghampiri ketika ditengah malam yang larut aku merasa tak nyaman dengan pakaian dan tubuhku. Seketika ayahku terjaga menghampiriku, mengendongku dan menciumi pipi dengan lembuh dan penuh kasih sayang.
Anakku,
Ibuku (nenekmu) pernah berkata kepada ayahmu “sungguh jika hari ini kalian ingkar kepada kedua orangtua kalian, maka nanti ketika anak kalian lahir dan tumbuh menjadi dewasa. Ia akan lebih ingkar kepada kalian”.
Demi Allah, kata-kata Ibu masih tergiang di telingaku, terasa dekat sekali. Seakan baru bebarapa menit yang lalu ibuku (nenekmu) berkata demikian. Aku teringat akan setiap kata, setiap sikap dan setiap ulahku yang menyakiti hati ibuku (nenekmu).
Sungguh anakku, aku tak ingin engkau terlahir menjadi anak yang lebih ingkar dan buruk perangainya dariku. Aku tak ingin nanti ketika engkau lahir seringkali membuat hati ibumu menangis sehingga ia tak ridha kepadamu, anakku.
Anakku,
Ibuku (nenekmu) adalah adalah ibu terbaik yang Allah berikan, bersyukur atas cinta dan nikmat yang Allah berikan, sehingga aku terlahir dari rahimnya. Tak pernah ayahmu lupa, ibuku (nenekmu) selalu menemani ketika ayahmu akan berpuasa senin kamis, dan membayar puasa nazard. Sungguh hanya kepada ibuku (nenekmu) ayah berani mengatakan keinginan, mengutarankan mimpi, dan meminta setiap  paragraph doa yang ia panjatkan ketika dalam shalatnya.
Ibuku (nenekmu) adalah ibu yang tak pernah membuatku kecewa, beliau selalu dengan senanghati mendoakan apa yang ingin ayahmu, dank ala ayahmu ada suatu permintaan kepada ayahku (kakekmu) hanya kepada ibu seoranglah aku berani menyampaikannya.

Anakku,

Tak ada waktu yang tak ayahku habiskan untuk memenuhi segala keingi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai