Apahku, Bekerja Lebih Keras Dari Penggulung
“APAHKU, BEKERJA LEBIH KERAS
DARI PENGGULUNG”
By. Ardiles
Di sisi dudut ruangan, diantara pelataran
jalan dan tiang-tiang gedung kampus yang menjulang dan berdiri dengan kokohnya
aku berdiri. Semenjak beberapa menit yang lalu aku menyandarkan tubuhku
ke salah satu tiangnya. Aku hanya terdiam dan terpaku memperhatikan beberapa
anak kecil yang dengan cerianya berlarian di hadapanku. Ku lihat mereka begitu
akrab dan dekat, “ku yakin mereka pasti bersaudara”. Tebakku tanpa pikir
panjang. Dua orang perempuan dan sau orang laki-laki. Ketiga anak kecil yang
kira-kira berumuran antara 4, 7 dan 9 tahun itu begitu menarik perhatianku.
Mereka membuatku menitih dan berpikir jauh sampai ke Bagian Sumatra Selatan,
tepatnya di Provinsi Bengkulu. Kab Bengkulu Selatan. Terbayang olehku, Elsa,
Ilham dan Arif yang berumuran sepantaran dengan mereka. Terbesit di benakku “
apa yang sedang diperbuat atau dilakukan adik-adikku di rumah”. “mudah-mudahan
mereka baik-baik saja” ucapku penuh harap. “Amin ya Allah”.
Kemudian aku“dek kamu ke kotak yang sana yah
!”. tunjuk perempuan yang paling besar di antara ketiga anak itu. “oke kak”
jawab perempuan yang satu lagi sambil memicingkan salah satu matanya. Lalu ku
lihat kakaknya hanya mengacungkan jempol kirinya, sedangkan tangannya yang satu
lagi sedang memegang bukusan plastik bewarna hijau yang lumayan besar. “kak,
terus adek ikut siapa kak?”. Tanya anak lelaki yang paling kecil diantara kedua
perempuan itu. “Adek ikut kakak aja yah, biarin kak dinda yang ke kotak yang
sana”. “iya deh kak” jawab adek kecil itu.
Kemudian ku perhatikan dengan seksama apa yang
ketiga adek-adek kecil itu lakukan, ku lihat mereka dengan sibuk dan gesitnya
mengacak-ngacak isi kotak-kotak besar bewarna biru langit itu. Kotak yang
hampir sama tingginya dengan badan mereka tidak membuat mereka berhenti untuk
melirik isinya.
Kemudian perempuan yang disuruh kakaknya untuk
pergi ke kotak yang berada di pojok samping Bank BRI, datang menghampiri
kakaknya “kak, di sana Cuma sedikit kak. Jadi Cuma dapat segini kak”.kata
perempuan yang lebih kecil.
“Alhamdulillah, iya ngak apa-apa kok dek. Isnya Allah mungkin
besok lebih banyak lagi dek. Kita syukuri aja apa yang kita dapat hari ini”.
Jawab perempuan yang paling besar.
“iya ya kak, Alhamdulillah. Daripada ngak dapat apa-apa sama
sekali”. Balas yang paling kecil.
“Alhamdulillah?” dan “Insya Allah”. Apa aku ngak salah dengar ?
tanya pada diriku sendiri.
“mereka ?, yang sekecil itu, bisa-bisanya berkata dan berpikir
sedewasa itu?”
Jujur aku ngak percaya, hatiku berdalih dengan apa yang aku
lihat. Aku tidak berani mengakui apa yang terjadi di hadapanku.
“ye... kak, coba lihat adek dapat apa!”. Teriak yang lelaki.
“emang adek kakak dapat apa?” tanya perempuan yang paling besar
penasaran.
“ngak tahu kak apa’an ini, adek mau kasih sama bapak kak”. Jawab
adek lelaki kecil itu.
“iya boleh”. Balas perempuan yang paling tua”.
Di saat dua beradik kakak itu berbincang, aku juga terus
memperhatikan perempuan kecil yang sedang merapikan apa yang ia dapatkan
dari kotak biru yang berada di pojok Bank BRI tadi. Tidak sengaja perempuan
kecil itu melihatku yang sedang memperhatikannya, menyadari keberadaanku yang
sedang memperhatikan mereka aku pun langsung beracting pura-pura sibuk dengan
handphoneku sambil sesekali memperhatikan mading yang ada di samping kananku.
begitulah yang sering aku lihat di Iklan atau di sinetron dan
film-film action di TV. Dan hari ini aku mempraktekkannya secara langsung. Ada
rasa geli atas apa yang aku lakukan, untungnya sedang tidak ada orang yang
lewat atau memperhatikan tingkah dan gelagakku. Ingin aku ketawa
sekeras-kerasnya, namun aku hanya bisa cengigisan dengan gayaku barusan.
“ dek ayo kita pergi, sepertinya bapak dan ibu sudah terlalu
lama menunggu kita. Ayo !” ajak perempuan yang paling besar.
“sip bos!” jawab kedua adiknya.
Kemudian mereka berjalan menuju lapangan bola UNP yang berada di
depan Rektorat, ku perhatikan mereka berjalan sambil berlari-lari kecil. Ku
lihat tawa dan kecerian di wajah tiga beradik itu. Aku mereka menyadari
bahwa aku memperhatikan mereka sedari tadi.
Sesekali si lelaki kecil itu menoleh ke belakang, namun
kakaknya, perempuan yang kecil. Memegan tangan kiri si lelaki kecil itu.
Kemudian dia berbisik ke telinga adiknya. Aku tidak tahu jelas apa yang ia
sampaikan kepada adiknya. Namun aku terus mengikuti tiga baradik kakak itu.
Lalu terbayang olehku wajah adik-adikku, “apakah adik-adikku
seakur itu antara satu sama lainnya?, atau mereka sedang bercanda satu sama
lainnya? Akankah adikku saling menjaga antara satu sama lainnya?” Itu
pertanyaan yang hadir di pikiranku.
Namun, tak dapat ku pungkiri, pikiranku mulai memikirkan hal
yang aneh dan menyedihkan tentang keadaan adik-adikku yang jauh di ujung
Sumatra sana, sehingga membuat mataku berkaca-kaca, seakan butir-butir yang
membuat mataku basah itu ingin keluar dari sela-sela kelopak mataku. Tapi, hal
itu tak sampai terjadi, akupun berusaha menguatkan hatiku, dan menepisnya dari
pikiranku “Alhamdulillah adik-adikku tidak sampai seperti mereka, terima kasih
ya Allah, terima kasih telah engkau berikan kami kedua orangtua yang penuh
cinta dan tanggung jawab. Terima kasih Pah, terima kasih”. Ucapku lirih
menggingat keluargaku.
Seandainya jika Apah dan Amah sudah tiada, aku tidak tahu
bagaimana kehidupanku dan adik-adikku. Aku takut membayangkan jika Apah telah
tiada, dan kami tidak tahu siapa yang akan mencari nafkah untuk kami
sekeluarga. Aku benar-benar takut membanyangkan jika aku dan adik-adik harus
melakukan hal yang dilakukan tiga anak kecil yang kini masih ku ikuti. Demi
Allah aku tidak kuasa membayangkannya.
“jangan sampai terjadi yah Allah, kami masih sangat membutuhkan
Apah untuk membimbing dan menjaga kami ya Allah. Hamba tidak akan tahu akan
seperti apa kami tanpa bimbingan dan lindungannya ya Allah. Berikan hamba waktu
untuk mengantikan posisinya sehingga hamba bisa membiarkannya beristirahat dan
lebih banyak waktu untuk beribadah kepada Engkau ya Allah. Kabulkanlah ya Allah
hamba sangat mencintai dan menyayanginya. Berikan hamba waktu dan kesempatan
itu ya Allah”.
“amin”. Ucapku.
Tak terasa, kini ketiga anak itu telah sampai di sudut kiri
lapangan sepak bola, ku si lelaki kecil itu langsung berlari mendahului kedua
kakak perempunnya menghampiri Ibu dan Ayah. Sepertinya tebakanku tepat, mereka
memang bersaudara. Ku perhatikan Ayah dan Ibu ketiga adek kecil itu telah lama
menunggu di simpang tiga jalan, antara Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Pendidikan
dan lapangan bola. Ayah dan Ibu anak itu, duduk pinggiran got yang terdapat di
sebelah taman FIS.
“Yah ini apa?” tanya si lelaki kecil kepada Ayahnya. Ia
menyodorkan kepada Ayahnya benda yang bentuknya cukup menarik, benda tersebut
memilki lengkungan yang seimbang baik kiri dan kanannya, dan
bewarna perak mengkilat.
“oh, ini stang sepeda motor nak. Dapat di mana tadi nak?” tanya
sang Ayah.
“di dekat sana yah, di ujung sana” jawab si lelaki kecil sambil
menunjuknya dengan mulutnya yang monyong.
Ayah, Ibu dan kakak-kakak perempuannya hanya tertawa melihat
tingkah adikknya ingin menunjukan tempat ia mendapatkan benda tersebut.
“yah sudah, yuk kita pulang. Barang-barangnya tolong dirapikan
dulu yah nak. Biar nanti semuanya bisa duduk”. Pinta Ayah adik-adik kecil itu.
“oke komandan!” sahut ketiga anal itu.
“Karena kakak yang paling rajin dan berhasil melakasanakan
seperti yang Ayah pinta. Maka kakak yang duduk di samping kanan Ayah”. Kata
Ayah anak-anak itu.
“ngak usah Yah, biar adik-adik saja Yah. Adik-adik juga sangat
rajin dan bersemangat Yah”. Jawab perempuan yang lebih besar.
Lalu Ayah anak-anak itu membelai kepala anak
sulungnya, dan mencium keningnya. Pemandangan ini, membuatku merasa terharu.
Aku semakin penasaran dengan keluarga itu. Aku kemudian berusaha mengambil foto
sekeluarga itu dengan kemarea handphoneku. Kerana jaraknya terlalu jauh,
sekitar 7 meter dari posisiku, di tambah lagi dengan hari yang sudah menjelang
magrib membuat fotonya tidak begitu bagus dan jelas.
Perlahan-lahan Ayah ketiga anak itu mulai
mengayuh sepeda becaknya, anak perempuan yang kecil duduk di samping kanan
Ayahnya, sedangkan si lelaki kecil duduk di antara stang atau kendali sepeda
dengan tempat duduk, di mana antara keduanya sudah diberi kayu yang memanjang
dan membentuk satu garis lurus antara stang dan tempat duduk sepeda. Ku
perhatikan, ternyata di sanalah si lelaki kecil itu duduk bertenger dengan
manjanya kepada Ayahnya. Sedangkan yang anak perempuan yang besar dari belakang
bersama ibunya mendorong sepeda yang Ayahnya kendarai agar terasa lebih ringan.
Ku lihat beberapa karung plastik besar yang di dalamnya terisi penuh dengan
gelas plastik air mineral bekas ukuran 200 ml, kerdus dan beberapa
potongan besi yang dikumpulkan adik-adik kecil itu di setiap kotak-kotak sampah
bewarna biru itu, dijaga oleh Ibu dan adik peremuan itu agar tidak terjatuh.
Kini wajah Apahku mulai hadir kembali di
benakku, Apahku kadang tidak sampai hati melihat aku bekerja. Apalagi sampai
melihatku menjadi pengulung barang bekas seperti keluarga pengulung itu.
Demi Allah, aku tidak mengatakan pekerjaan penggulun tidak halal dan tidak
baik. Namun aku hanya ingin mensyukuri apa yang telah Allah berikan dan
bersyukur telah diberikan Apah yang bertanggung jawab terhadap kehidupan kami
sekeluarga. Apahku memang bukan seorang penggulung. Tapi, Apahku bekerja
lebih keras dan berat dari para penggulung untuk membiaya kuliah aku dan dua
adik serta biaya sekolah ketiga adikku, Apahku tidur lebih sedikit dan terjaga
lebih awal dari para penggulung untuk mencari nafkah dan Apahku membiarkan kami
makan dan tidur lebih awal, sedangkan beliau selalu terakhir tidur dan selalu
makan sendiri tanpa makan bersama kami.
Walau Apah bekerja lebih dari seorang penggulung, namun semua
itu untuk kami, anak-anak dan istrinya, aku, adik-adikku dan Ibuku tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar