setting

My Story : ARDILES: Daratan Eropa : Kota Mimpi

Daratan Eropa : Kota Mimpi

DARATAN EROPA : EUROPE-KOTA MIMPI

By. Ardiles

London, jerman, paris, spanyol, prancis dan semua yang ada di eropa begitu mengugahku. Jemariku, begitu ingin sekali menjeritkan ungkapan hati melalui kata-kata yang menyakiniku bahwaku merindukan salah satu kota di eropa.
Masih teringa jelas dalam ingatan, ketika duduk di bangku kelas IX atau tepatnya kelas 3 SMP.  Saat itu tepatnya yang mengajar adalah wakil kepala sekolahku. Beliau terkenal killer dan sangat menakutkan bagiku dan beberapa teman-teman yang lain, terutama bagi teman-teman yang sangat suka melanggar tata tertib dan aturan sekolah, mulai dari rambut gondrong, pakaian sampai dengan tugas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dikelas, baik itu sedang ujian ataupun saat sedang proses belajar mengajar.
Tapi, beliau begituku hormati. Kedisiplinan dan taat aturan yang beliau terapkan membuatku belajar banyak hal. Hingga saat ini, beliau merupakan salah satu guru inspiratif bagi, guru yang membuatku termotivasi untuk selalu menjadi terbaik dan terdepan.
Nama beliau Bapak Hendrisno, sungguh sulit bagiku melupakan guru-guru yang meninggalkan kesan mendalam dalam pembentukan karakterku.
Sebagai seorang guru yang mengampu mata pelajaran IPS, beliau mengajarkan banyak hal tentang sejarah, persoalan organisasi dunia, ekonomi serta persoalan social dan budaya.
Aku yang selalu berusaha mempersiapkan segala halnya sebelum jam pelajaran beliau, maka satu hari atau malam hari sebelum jam pelajaran belaiu aku berusaha untuk membaca buku pelajaran terlebih dahulu. Alhamdulillah nilai mata pelajaran IPS-ku tidak begitu buruk, bahkan cukup tinggimenurut teman-temanku.
Pernah satu kesempatan, saat mengikuti pelajaran beliau. Beliau bertanya kepadaku, pertanyaan yang sederhana, bahkan tidak begitu sulit menurut beliau. Tapi, tetap saja aku tidak tahu dan harus menjawab apa.
Beliau yang saat itu, sudah mengetahui aku akan berangkat ke salah satu Negara yang terdapat di Benua Eropa seolah usil ingin mengujiku.
“Ardiles,  saudara tahu sebutan atau pengucapan eropa?”
Aku hanya terdiam, tertunduk dan tak tahu sama sekali harus menjawab apa.
“masa, saudara tidak tahu. Katanya mau ke eropa?”
Aku hanya melempar senyum hambar. Teman-teman yang duduk di depan mulai berbalik ke belakang memandangku. Aku yang duduk di bangku paling belakang seketika menjadi bahan perhatian.
Aku mulai cengegesan malu tak tahu mau menjawab apa.
“bagaimana saudara ini? Masa iya tidak tahu!”
Aku mulai malu, aku sama sekali tak pernah tahu ataupun membaca tentang eropa. Kalaulah mengenai London, UK aku sudah membaca sedikit banyak referensi tentang di sana.
“ atau yang lain ada yang tahu?”

Sama halnya denganku, semuanya hanya diam membisu bingung tak tahu menjawab apa. Hanya saja untung ini bukan kuis atau pertanyaan yang mendapatkan hukuman. Kalaulah saja ini menjadi kuis atau pertanyaan pembuka di awal pelajaran, tentu akan banyak tangan dan kepala yang kena “totokkan” mistar kayu.
“maaf pak, Ardiles tidak tahu pak” jawabku malu dan memalas
“ saudara ini bagaimana sih, eropa itu sebutan lainnya “Europe” atau Uni Eropa. Nah, Inggris itu salah satunya” jawab baliau.
Hari itu cukup membuatku tersadar sekaligus terkesan. Ku buka buka pelajaran IPS ku, ku buka lembaran demi lembara. Aku berusaha mencari peta dunia yang terdapat di salah satu lembarnya. Daratan Eropa, begitu banyak negara yang langsung dan saling berhubungan. Bahkan batas-batas negera begitu jelas terlihat.
Anganku mulai membumbung, betapa menyenangkannya dapat tinggal di salah satu Negara di sana. Kuliah dan menghabiskan waktu menyelami sejarah peradaban Barat. Mengali ilmu sedalam-dalamnya, menyusuri jejak-jejak penjelajah dan pemimpin dunia yang menyajarah. Mengali partikel dan keeping-keping catatan sejarah islam yang pernah menerangi eropa.
Itulah mimpiku, tujuh tahun berlalu. Kini hasrat dan cita itu tak pernah luntur


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai