setting

My Story : ARDILES: Laki-laki Malang dan Perjodohan

Laki-laki Malang dan Perjodohan

LAKI-LAKI MALANG & PERJODOHAN
By. Ardiles

Perjalanan hidup adalah sebuah misteri yang sulit di tebak, tak ada alur cerita yang jelas dan tak ada yang tahu bagaimana semua berjalan seperti ini. Hanya pembuktian yang bisa menentukan jalan cerita kehidupan ini. Tak ada yang tahu bagaimana tepat semua terjadi, sejenak saja mata terpejam maka seketika semua akan berubah dengan cepatnya.
“yah, inilah hidup” ucap Ryan sejak tadi duduk di sebelah kakeknya. Takdir, nasib, kematian dan rasa cinta semua menjadi satu. Melebur seperti adonan kue yang penuh dengan partikel-partikel dan bahan-bahan yang beraneka ragam, semua tergantung dengan kita hingga rasa dan bentuk kue itu menjadi seperti yang kita inginkan, sederhana sekali. Sadar atau tidak, yang pastinya kehidupan kita senangtiasa dipenuhi rasa ingin tahu, perjuangan, tawa, sedih, tangis dan cinta. Tak dapat dipungkiri, yang membuat dunia ini menjadi lebih indah, itu karena cinta. Cintalah yang mengisi setiap relung-relung hati dengan kepercayaan, keyakinan dan rasa ingin saling menyayangi. Apalah arti kehidupan jika semuannya hampa, memiliki hati yang kosong dan gelap. Senyap dengan kesendirian, tak ada tempat berbagi dan mencurahkan segala rasa yang terpendam. Terpendam di dalam hati begitu lamanya, hingga perasaan ini menjadi halal, begitu lamanya hingga rasa di hati dapat dapat berbuah pahala, begitu lamanya hingga cinta yang telah lama tersimpan dengan kokohnya dapat berbuah surga, begitu lamanya hingga bahterah cinta ini dapat berdiri, berdiri kerana sebuah komitmen. Komitmen keimanan dan cinta kepada yang Maha Kuasa Atas Segala-Nya. “hidup ini selalu di penuhi cinta Yan” ucap kakek yang masih terbaring lemas di tempat tidur rumah sakit. 
Sudah seminggu Ryan di rumah sakit menemani kakek, ternyata penyakit kakek sudah begitu parah, namun Ryan tidak tahu pasti apa penyakit kakeknya. Walau wajah kakek yang telah penuh kerutan itu hanya terpancar raut muka yang pucat, wajah kakek tidak segagah di kala waktu kakek masih muda dan menjadi tentara yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Bagian Barat Sumatera. Foto kakek yang mengenakan baju loreng lusuh sambil memegang sepucuk senjata, masih terpajang di dinding tangga menuju lantai dua rumah gadang. Pagi ini, di tengah rasa perih dan sakitnya. Kakek selalu saja meracau dengan kata-kata cinta yang membuat Ryan terkagum-kagum dalam beberapa minggu selama di rumah sakit, kata cinta yang menarik bagi seorang anak lelaki seperti Ryan. 
“Hampir 10 tahun Apah dan Amah kau tidak pernah pulang kampung Yan, dan sudah selama itu kakek tidak berjumpa dengan kau. hahahahaha, kau sudah tumbuh besar dan gagah sekarang” seketika kakek tertawa  “iya kek, sudah lama sekali” jawab Ryan datar sambil memperhatikan kakeknya yang hanya bisa terbaring kaku di atas termapat tidur. “kau masih saja tertarik mendengarkan cerita-cerita kakek, Yan?”
“iya kek, hari ini cerita apa lagi kek?” balas Ryan cepat. 
Sejak Ryan kecil sebelum Apah dan Amahnya Ryan pindah dan menetap di Bengkulu, kakek memang sering sekali bercerita kepada Ryan. Kapanpun dan di manapun kakek akan bercerita untuk Ryan dan Ryan sangat senang mendengarkan cerita-cerita kakeknya. Kakek akan bercerita sambil mengajak Ryan berjalan-jalan, sambil naik delman, kadang sambil duduk di bahu kakek kalau Ryan letih berjalan. Dan saat itulah kakek akan bercerita sepanjang jalan untuk Ryan kecil.
“kakek yakin, pasti sekarang kau sudah mengenal cinta, bukan begitu Yan? Atau jangan-jangan kau sudah pandai merayu anak gadis orang sekarang?” tanya kakek sambil tersenyum, dan mengerak-gerakan salah alis matanya.
“hahaha, ada-ada aja kakek ini” Ryan berusaha ngeles dan seolah tidak mengerti apa yang barusan di bilang kakeknya.
“hari ini kakek ingin menceritakan sebuah kisah cinta kepada kau, Yan. Kisah cinta yang sederhana namun begitu bermakna untuk kehidupan kakek, dari hati sepasang kekasih yang tak pernah ternodai oleh kejahiliayan zaman ini. Kisah cinta yang tak seperti cerita cinta di zaman modern ini. Tahulah kau Yan sekarang kenapa kakek lebih suka di kampung, hanya menetap dan merawat rumah gadang, mengolah sawah dan ladang hingga kau, Apah, Amah dan adik-adik kau pulang ke rumah. Kakek sedih dan kecewa melihat tingkah anak-anak muda sebesar kau kini, pergaulannya terlalu bebas. Ntahlah, tidak ada batas-batas yang jelas dan sah antara laki-laki dan wanita sekarang. hahaha, mungkin inilah pertanda kiamat itu semakin dekat Yan”.
“yah kek” , Ryan hanya tertunduk malu dan tak berani menatap mata kakeknya. 
Ryan tak tahu bagaimana seadainya kakek tahu kalau Dia juga sudah terjebak dalam kejahiliyan zaman modern ini. Saat pergaulan antara sepasang lelaki dan wanita sudah tak sesuai agama dan adat lagi. Saat menyatakan perasaan mereka, saat mereka memiliki perasaan yang sama, maka seketika itu juga mereka mengatakan bahwa mereka sepasang kekasih. Aneh sekali, apa yang menjadi bukti sebuah ikatan dari pacaran itu, bukankah hubungan mereka tidak seperti sepasang suami isteri yang memiliki buku nikah. Nah! Bagaimana dengan orang pacaran, apa yang menjadi bukti hubungan mereka yang berpacaran, ntahlah?
Lucu sekali, ternyata Ryan terjebak dalam dunia yang penuh fantasi cinta. Cinta yang tidak pada tempatnya, cinta yang membuatnya menjadi seperti orang bodoh, diperbudak oleh perasaan yang dan senang mendekati zina. Padahal masih tergiang-giang di telinganya pesan kakek setiap kali menelpon atau mengirimkan surat,
“jangan sesekali engkau mendekati zina, apalagi berbuat zina. Ingat Yan! Kau jaga hati dan imanmu hingga nanti kau berikan kepada yang layak menerimannya”.
“kau tahu yan, Kisah cinta ini berbeda, kisah cinta ini terjalin atas dasar kepatuhan, kebaktian dan keimanan seorang anak kepada Allah dan orangtuanya. Tidak mengenal pacaran bahkan mereka tidak sempat untuk saling mengenal lebih lama. Hanya kesepakatan saja yang akhirnya membuat mereka menjadi sepasang suami istri dan keluarga yang bahagia sampai saat ini”.
“maksudnya kek, Ryan ngak ngerti” keningnya hanyu mengeryit lusuh tak begitu memahami kata-kata kakeknya.
“hahaha, dasar anak muda” kakek hanya tertawa melihatku sedikit kebingungan dengan kata-kata terakhir.
“Menjadi sepasang suami isteri dan keluarga? Kakek ada-ada saja, Ryan baru mau masuk kuliah kek. Yusuf mau belajar dulu kek. Kok ceritanya udah sejauh itu kek?” Tanya Ryan pada kakek dan berusaha menepis tatapan kakek yang aneh padanya. 
Ntah apa yang kakeknya pikirkan, apa mungkin kakeknya tahu atau mulai curiga kalau Ryan sudah pernah pacaran. Tapi, kakeknya tidak langsung menanyakan hal itu, dan pertanyaan kakeknya juga tidak ada yang mengarah ke sana. Hanya tatapan yang dibalut dengan senyum curiga yang terpancar dari wajah kakeknya.
“laki-laki adalah calon kepala keluarga, kau tahu maksudnya apa itu kepala keluarga Yan?
Hahaha...
kau tahu, semua laki-laki akan manjadi pemimpin di keluarganya. Dan pemimpin itu harus tegas dan punya pendirian. Harus bisa mengambil keputusan dengan bijak dan mengedepankan ketenangan hati serta jernihan pikiran dalam bertindak. Kisah cinta yang kakek ceritakan ini, tidak lepas dari peranan dan tanggung jawab pasangan laki-lakinya. Bisa kau bayangkan, sebuah keluarga yang bahagia ini dengan jumlah anak enam orang, isteri yang hanya mengurus rumah, mendidik anak-anaknya dan mengurus keperluan keluarga. Laki-laki itu hanya bekerja sendiri, mencari nafkah dari pagi hingga petang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang banyak, belum lagi kebutuhan rumah, keluarga dan sekolah anak-anaknya. Coba kau bayangkan, betapa berat perjuangan dan kerja kerasnya hanya mencari nafkah seorang diri. Begitulah peran seorang laki-laki dalam keluarga. Kakek masih ingat dengan jelas saat meraka akan menikah dan menjadi sebuah keluarga. Awalnya sang laki-laki sudah lama hidup di rantau, menjadi seorang pedagang di negeri lain, dan sudah sangat lama laki-laki ini meninggalkan kampung halamannya. Berjuang dengan keras untuk keluarganya di kampung, padahal dalam keluarga laki-laki ini merupakan anak laki-laki yang paling bungsu. Dia anak kelima dari tujuh bersaudara. Waktu Dia pergi merantau, laki-laki itu sepantaran kaulah Yan. Bedanya waktu itu Dia berhenti sekolah dari kelas II SLTP, karena orangtuanya tidak punya cukup uang untuk menyekolahkannya. Beruntunglah kau bisa kuliah Yan, tidak seperti laki-laki itu malang itu”.
Mendengar kata-kata kakek yang membandingkannya dengan laki-laki itu, Rayan hanya mendengus sebel dan kesal. dibandingkan denga laki-laki yang tak ia kenal. 
“Ya, kalau Dia berhenti sekolah dan tidak bisa kuliah sepertiku, itu urusan laki-laki itu kek. Mungkin saja laki-laki malang itu tidak berusaha dengan keras seperti aku Kek, buktinya aku bisa kuliah walau Amah dan Apah agak kesulitan. Dan Itu karena aku belajar dengan giat hingga mendapatkan beasiswa, kek”.
“ya, ya Yan” kakek sambil menghelus-helus kepalaku yang kini duduk samping kakek sambil memijit-mijit lengan kiri kakek.
“akhirnya, setalah berhenti sekolah laki-laki itu bekerja dipencucian fuso yang berada tidak jauh dari rumahnya. Mungkin kau tahu Pancuran Cimpago, nah di sanalah laki-laki malang itu bekerja. Nah, di sanalah Ia bekerja selama tiga tahun. Selain bekerja di sana, laki-laki malang itu juga bekerja serabutan di ladang dan sawah-sawah orang. Upahan membersihkan ladang, kandang ternak, membajak sawah, membantu orang panen padi, menanam kopi, memanen coklat, memetik cengkeh, memanjat durian dan banyak lagi, sampai laki-laki malang itu dapat mengumpulkan uang untuk bisa merantau. Dengan uang jerih payah sendiri dari hasil kerja keras di kampung selama tiga tahun Ia kumpulkan untuk merantau, memperbaiki nasib di negeri lain, mengukir cita dan mimpinya, tekad ingin membantu orangtuanya dan bisa menyekolahkan kedua adik perempuanya adalah janji yang Ia bawa dan genggam erat ketika merantau” Sekali lagi, Ryan seolah-olah diperbandingan dengan laki-laki itu. Dan Ryan sangat memahami alur cerita kakeknya kerana tidak biasanya kakek seperti ini. Cerita hari ini memang berbeda dan Ryan menyadarinya. Berbeda sekali denga laki-laki malang itu, Ryan yang sebelum aku berangkat ke Padang untuk kuliah di salah satu Universitas di Nagari Minang Kabau itu, Ia hanya bisa menengadahkan tangan kepada Apahnya sebelum berakat. ntah berapa banyak hasil berdagang Apahnya hari itu, dengan senanghati Apahnya memberikan semua hasil berdagang dari shubuh dini hari hingga menjelang sore. Hari itu mendadak sekali, paginya Ryan ditelpon oleh Waka Kesiswaan untuk segera datang ke SMA, ternyata hasil beasiswa telah keluar. Dan Ryan seorang yang lulus dari SMA-nya, celakanya Ia harus segara melapor ke Universitas tersebut, dan Ryan hanya punya waktu dua hari lagi sebelum registrasi mahasiswa yang lulus beasiswa itu ditutup. Jika Ryan telat atau tidak registrasi maka Ia akan dinyatakan gugur. Ntah bagaimana untuk makan dan keperluan rumah sampai besok sore, uang hasil penjualan untuk membeli barang dagangan sudah diberikan semuanya kepada Ryan. Sudah tentu berbeda sekali antara laki-laki malang dan Ryan ketika ingin pergi merantau dan mewujudkan cita-citanya. 
“Apa boleh buat, walau Apahnya harus bekerja keras dan kesulitan untuk membiayai kuliahku sepenuhnya. Alhamdulillah, kalau untuk kuliah aku bisa mencarinya sendiri dan aku tidak perlu merepotkan Apah”. Ucap Ryan dalam hatinya, Ia tidak enak hati mengatakannya langsung kepada kakeknya 
“Toh, kalau Ryan hanya meminta uang untuk ongkos perjalanan dari Manna- Bengkulu-Padang, dan kebutuhan menjelang beasiswa Ryan keluar aja kok kek. Dan Apah tidak keberatan kok Kek, malahan Apah dengan senanghati bekerja keras dan memberikan Ryan uang kek.” Ucap Ryan dengan senyum kepuasan membela dirinya dari urusan dibanding-bandingkan dengan laki-laki malang yang disebut kakeknya.
“setalah lama di rantau, berjuang dan bekerja keras di negeri orang. Akhirnya laki-laki malang itu bisa mengirimkan Ibunya uang, membantu menyekolahkan dua adik perempuannya dan memperbaiki rumah papan mereka. Berkat kejujuran dan kerajinan laki-laki malang itu Ia dipercaya oleh Bos ditempat Ia bekerja, untuk menjual dan mendistribusikan barang-barang kelontongan ke daerah terpencil dan pelosok. Ketekunan dan keuletannya akhir mambuahkan hasil yang menguntungkan bagi Bosnya. Dua tahun bekerja di toko Bos Cina, laki-laki malang itu memperoleh banyak pengalaman dan cara berbisnis. Setalah mantap dengan keputusannya, akhirnya laki-laki itu berhenti. Walau berat hati, Bos Cina tempat Ia bekerja memberikannya izin dan modal untuk memulai usaha sendiri. Karena laki-laki malang ini tahu diri, Ia tidak menjalankan usaha yang sama seperti Bosnya dulu. Tapi, Ia lebih tertarik pada usaha jasa angkutan, mendistribusikan pangan dan hasil sawah dan ladang orang-orang di daerah pedalaman dan pelosok tempat Ia sering mendistribusikan barang-barnag kelontongan dulu. Ide usaha ini terpikirkan karena seringnya Ia memperhatikan keadaan orang-orang yang tinggal di daerah perbatasan tersebut. Kebanyakan penduduknya hanya bekerja sebagai petani dan berladang, maka Ia memulai usahanya sebagai toke atau penyalur hasil pangan, ladang dan sawah para petani, kemudian laki-laki malang itu menjualnya ke kota. Cengkeh, jengkol, kopi, coklat dan lainnya. Ia hanya membantu petani, hanya mengambil untung sedikit saja. Beberapa tahun bekerja sebagai penyalur hasil pangan, akhirnya Ia harus pulang. Ibunya meminta laki-laki itu untuk pulang, alasanya ada yang sangat penting dan ingin Ibunya sampaikan. Tadi pagi, sebelum berangkat mengopor hasil ladang ke kota, ada kerabatnya yang baru sampai dari kampung menyerahkan sepucuk surat dari Ibunya di kampung. Laki-laki malang yang dari kecil sangat penurut dan menyayangi Ibunya, tanpa pikir panjang setalah membaca surat dari Ibunya, Ia mengurungkan diri untuk pergi menjual hasil ladang petani ke kota dan Ia meminta adik tirinya yang sudah beberapa bulan datang dari kampung dan kini ikut bekerja membantunya. Setelah bersiap, pada hari itu juga Ia pulang ke kampung memenuhi permintaan Ibunya yang tertulis di dalam surat yang Ia terima pagi tadi. kau tahu Yan, bagaimana perasaannya laki-laki itu ketika sampai di rumah? Saat itu kerabat, sanak saudara dan beberapa tentangga dekat sudah berkumpul di rumah.”
“ngak Kek, mana Ryan tahu” jawabku datar “betapa kagetnya Ia saat Ia sampai di rumah, saat orang-orang rameh dan sedang rapat niniak-mamak di rumahnya. Ternyata keluarganya sudah sepakat akan menikahkan laki-laki malang itu dengan anak gadis kawan lama Ayahnya saat sama-sama masih menjadi prajurit. Saat itu laki-laki yang sudah malang dari kecil, kini harus menimpa kemalangan kembali untuk menikahi dengan wanita yang tidak pernah Ia kenal sebelumnya, menunaikan janji yang dibuat Ayahnya. Jangankan wajah, nama wanita yang akan menjadi istrinya nanti saja laki-laki malang itu tidak tahu. Laki-laki malang saat itu sudah berumur 27 tahun, dan memang sudah layak untuk bekeluarga. Anehnya, Ia tidak menolak hasil musyawarah keluarganya. Padahal dalam mengambil keputusan itu Ia sama sekali tidak ikut berbicara. Namun, hanya satu pilihan saja “menikah” kata Ibunya. Tanpa pikir panjang, tanpa memikirkan siapa wanita yang akan Ia nikahi dan tanpa tahu siapa wanita yang akan dijodohkan dengannya Ia hanya menjawab takzhim iya Bu. Tanpa ada bantahan, tolakan dan tawar menawar. Ibunya tahu betul laki-laki malang itu anak yang baik dan penurut, dan Ibunya tahu betul karakter anaknya yang pemalu. Jangankan untuk pacaran, mendekati wanita saja laki-laki malang tidak berani, apalagi sampai menyapa. Ibunya tahu betul anaknya tidak akan menolak sedikitpun perintah Ibunya. Selama itu baik dan tidak melanggar perintah agama, Ia akan menuruti peritah Ibunya. Setalah laki-laki itu setuju, maka tinggal keputusan sang wanita. Ayahnya langsung mengirimkan surat kepada sahabat lamanya mengenai perjodohan anaknya. Satu hal yang harus kau tahu Yan, ini bukan perjodohan yang dipaksakan, bukan seperti perjodohan yang sering kau tonton di sinetron-sinetron di TV itu. Tak ada masalah hutang, tak ada pengabungan dua perusahan besar, dan ini bukan seperti cerita Siti Nurbayah yang pernah kakek ceritakan pada kau dulu. Tapi, ini adalah sebuah ujian dan pilihan. Ujian bagi seorang anak untuk durhaka atau patuh dengan menolak apa yang telah Ibu dan Ayahnya rencanakan untuknya, bukankah sejak lahir kedunia sampai Ia tumbuh dewasa Ibu dan Ayahnya selalu merencanakan dan memberikan yang terbaik untuknya. Mengikuti pilihan atau tidak mengikuti keputusan kedua orangtuanya itu sudah menjadi haknya, bukan negara ini negara demokrasi yang menghargai setiap hak orang lain, hak mengeluarkan pendapat dan hak untuk memilih. Namun berbeda dengan keputusan wanita yang akan dijodohkannya Yan, Kau tahu Yan apa yang wanita itu pilih?”
“pasti menolak kek” jawabku mantap tanpa ada keraguan. “ bukankah pasangan hidup itu kita yang harus memilih dan menentukan kek. Bukan orang lain, termaksud Amah dan Apah nanti tidak bisa ikut campur jika Ryan mau menikah. Bukankah yang menjalaninya nanti adalah kita sendiri kek? Makanya Ryan yakin akan memilih sendiri” “di sudut daerah lainnya, saat wanita yang akan dijodohkan dengan laki-laki malang itu menolak. laki-laki malang itu malah dengan lemah lembut meraih tangan Ibu dan Ayah, Dia cium tangan keduanya lalu ia peluk Ibu dan Ayahnya dan Ia hanya berkata. Terimah kasih Umi dan Apak yang selalu memperhatikan ananda, sampai untuk urusan ini Umi dan Apak harus repot-repot memikirkannya. Sampai kapanpun dan apapun itu ananda akan terus patuh dan menurut dengan keputusan Umi dan Apak. Demi Allah, perjodohan ini ananda terima bukanlah karena terpaksa. Perjodohan ini ananda terima sebagai rasa sayang dan syukur ananda kapada Allah kerana diberikan Umi dan Apak yang selalu menyayangi ananda. Umi dan Apaklah yang lebih tahu tantang ananda dan Umi da Apak jua lah yang lebih tahu mana yang terbaik bagi ananda. Jika Umi dan Apak telah ridho, tentulah Allah akan ridho kepada ananda dan keluarga ananda nanti. Apalah arti dan jadinya hidup ananda tanpa ridho Allah dan kedua orangtua ananda. Subhanallah, begitu mulia kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu dan pada saat itu kakek mendengar sendiri Yan”. 
“ya lah kek, itukan zaman laki-laki itu. Tidak untuk di zaman ini kek. Aku nanti mau pilih sendiri pasangan hidupku kek. Aku akan menentukan sendiri calon istriku nanti, dan aku tidak seperti laki-laki dalam cerita kakek.” Jawabku membela diri.  Tentu saja, sekarang aku sudah mengerti apa cinta, aku sudah mengenal apa itu pacaran.
Dan tentu saja pilihan sendiri itu jauh lebih baik bagi kita.  “Walaupun jelek buruknya nanti itu urusan belakang, yang penting kita ngak akan menyesal karena itu pilihan sendiri. Daripada menyesal dengan pilihan orang lain, apalagi sampai menyesal dan durhaka kerana pilihan orangtua tidak sesuai dengan keinginan kita, jadilah keluarga yang berantakan alias broken home”. Ucapku dalam hati. Namun kakek hanya tersenyum, dan melanjutkan ceritanya
“seminggu kemudian surat balasan dari sahabatnya datang, dalam surat itu dikatakan keluarga kawan lamanya akan datang berkunjung dalam beberapa hari lagi untuk membahas urusan perjodohan itu. Namun betapa terkejutnya Ayah laki-laki malang itu, saat di dalam surat itu di katakan bahwa kawan lamanya telah meninggal dunia satu tahun yang lalu dan di dalam suratpun tertulis bahwa anak perempuan kawan lamanya tidak bersedia menerima perjodohan itu. Dan anak perempuannya sudah kawin lari dengan laki-laki pilihannya. Sontak betapa kagetnya Ayah si laki-laki malang itu, hanya tertegun hening menatap surat yang masih di tangannya. Ayahnya hanya menatap kosong seisi ruangan, tak habis pikir bagaimana dengan janji yang telah mereka buat jauh sebelum mereka berkeluarga. Kini pupus dan tak akan pernah terwujud. Lain jadinya jika kawan Ayahnya masih memiliki anak gadis lain atau laki-laki. Masalahnya kawan Ayahnya hanya memiliki satu orang anak, anak gadis tunggal semata wayang. Perjodohan batal dan pernikahan gagal”. “kan sudah Ryan bilang, perjodohan itu tidak baik kek. Hanya merusak hubungan saja, baik itu antara keluarga laki-laki dan perempuan dan keluarga mereka masing-masing. Belum lagi nanti kalau jadi pernikahan mereka hanya akan berbuah bencana” jawab dengan begitu bijak dan senyum kemenangan. “kasihan laki-laki malang itu Yan, selalu saja malang. Betapa malunya laki-laki itu karena perjodohannya batal. Wanita itu menolak sebelum melihat laki-laki malang itu Yan, kalau wanita itu sempat melihat laki-laki malang itu. Kakek yakin Ia tak akan menolak. Laki-laki itu berkulit putih, rambutnya lurus berkimilau. Kata-katanya lemah lembut dan sikapnya sopan, sayang wanita itu membatalkan sebelum berjumpa. Namun apa di kata Yan, pernikahan harus tetap terjadi dan laki-laki malang itu harus tetap menikah”.
“ha? Kenapa kek? Bukankah wanita yang dijodohkan itu tidak mau kek? Terus dengan siapa laki-laki itu menikah kek? Tanya Ryan penasaran. Kakek hanya diam dan tersenyum.
“Ryan ngak mau seperti laki-laki malang itu kek, terlalu patuh dengan keputusan orangtuanya kek. Keputusan Ryan, Ryan mau pilih sendiri pasangan hidup Ryan kek. Bukankah kakek sering bilang cinta itu bertemu karena takdir dan Ryan yakin akan menemukan takdir Ryan sendiri”.

Namun kakek hanya tetap diam dan tersenyumm melihat Ryan meracau sendiri, berbicara mengenai pilihan hidup dan keputusannya sudah bulat,bahwa Ia tidak setuju dijodohkan dan Ia tidak mau dijodoh-jodohkan. Ryanpun nyeletuk dan bertanya iseng untuk memastikan ending kisah cinta laki-laki malang itu. “pasti pernikahan laki-laki malang itu tidak bahagiakan kek ? pasti pernikahannya hanya bertahan beberapa bulan saja kan kek? Kalaupun pernikhan laki-laki malang itu bertahan, pasti selalu ada pertengkaran atau keluarga broken home” Ryan tertawa geli memikirkannya. Kakeknya hanya menatap lurus keluar jendela ruang kamar inap, kakek hanya tetap tersenyum. Dan Ryan tidak berhenti mengoceh. “perjodohan! di mana letak indahnya kisah cintanya” ucap Ryan lirih dan bingung. “kek, pasti laki-laki malang itu tidak punya anak setelah menikahkan kek? Kalau punya anak pasti kasihan sekali hidup anak laki-laki malang dengan pernikahan hasil perjodohan dan lahirlah anak perjodohan itu, hehehe” Ryan merasa menang, dan benar menolak mentah-mentah kisah cinta yang indah menurut kakeknya. 

“kau tahu cucuku” sapa kakek lembut sambil tetap tersenyum. “Yan, laki-laki malang itu punya anak dari hasil perjodohannya dan pernikahannya. Dan anaknya tidak semalang laki-laki itu Yan”. “kakek mengenal betul anaknya Yan, kau mau tahu sesuatu rahasia besar Yan? Kakek sambil berbisik ke telinga kanan Ryan. “apa kek?” balas Ryan “kau tahu, anaknya kini sedang memijat lengan kakek” ucap kakek lembut ke telinga Ryan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai