setting

My Story : ARDILES: Sahabatku Lihatlah

Sahabatku Lihatlah

SAHABATKU LIHATLAH....

By Ardiles

Aku dan adikku percaya atau tidak, betapa menyenangkan dan bahagiannya membuat seseorang yang kita cintai merasa kita menyayangi dan mencintainya. Tak mudah mengekspresikan rasa dan sikap ini kawan. Namun, kita juga tak perlu melakukan hal yang istimewah bahkan harus mengeluarkan uang, bahkan memberikan permata yang indah untuk orang yang kita cintai..
Bahkan, cukup dengan mengatakan betapa "aku mencintaimu" itu sudah cukup membuat orang yang mencintai kita terguguh. Atau mungkin dengan memberinya setangkai bunga mawar di tepian danau yang indah akan membuat hati dan perasaan kalian semakin dekat, atau bahkan jika engkau memiliki harta dan uang yang melimpahkan, mungkin dengan mudahnya engkau akan memberikan apa saja yang mahal dan mewah kepada orang yang kalian cintai,
ah sudahlah mungkin bisa apa saja bagi kalian, begitu mudah dan terlalu mudah bagi kalian wahai sahabatku. 
Sore hari, di kala rasa nyeri masih menyelimuti tubuhku. Aku hanya bisa tiduran dikamar kecil dan pengap sambil menatap keluar jendela kamar rumah kecil yang sederhana. Aku baru beberapa hari tiba di bengkulu selatan, setalah kabur dari rasa sedih yang mampir sesaat di padang, akupun singgah beberapa minggu di pekanbaru menemui adik laki-lakiku. Namun tetap saja aku harus bertemu dengan masalah-masalah yang membuatku bungkam dan hanya terdiam. Jelas saja pikiranku mulai membuat fisik terpengaruh, aku memendam rasa dan aku memendam masalah dihati dan pikiranku.
"sesaat amah datang dan membangunkanku dari lamunan panjangku. Dengan perlahan amah membelai kepala dan menanyakan keadaanku. Bertanya tentang kuliah dan teman-teman di kampus, namun aku hanya menjawab datar saja. "biasa aja mah". "lalu bagaimana khabar adikmu di pekanbaru?" lanjut amah" 
"alhamdulillah baik mah"
"kalian harus saling mendukung, dan berikan semangat dan motivasi bagi adik-adikmu, baik nefri dan mualif. Kalau, adik-adikmu di rumah biar amah dan apah yang akan mengurus".
"iya mah" jawabku mantap.
Aku punya dua saudara laki-laki yang umurnya hanya terpaut satu dan dua tahun di antara mereka. Dan saat ini mereka sudah kuliah keduanya, mereka adalah lawan sekaligus sahabatku, namun mereka juga sekaligus adik-adikku yang baik walau kadang menjengkelkan. Keduanya memiliki sifat yang berbeda, yang satu sangat cerewet dan satu sangat pendiam, satu sangat pembantah dan yang satu lagi penurut, yang satu sangat blak-blakan dan yang satu lagi sangat perasa.
Jika yang satu sangat cengeng maka yang satu lagi sebaliknya, bahkan perbedaan fisik mereka yang sangat nampak adalah warna kulit, yang satu putih bersih dan ganteng seperti apah sedangkan yang satu lagi berkulit hitam dan memeliki sesuatu yang istimewah mirip amah. Perbedaan keduanya juga akan terlihat dari cara penampilan, yang satu sangat modis, dan pandai bergaya sedangkan yang satu lagi sangat sederhana bahkan tidak terlalu pandai bergaya. Persamaan mereka berdua adalah sangat mudah aku takhlukan, walaupun beberapa menit yang lalu kami baru selesai berentam, atau aku memukulnya. Seketika juga aku bersikap baik dan keduanyapun ikut baik kembali kepadaku, walau dengan mengerutu, bagaimanapun mereka adik-adikku jadi aku tahu betul akan mereka. Keduanya sama-sama suka menabung,dan uang mereka sering kali aku pinjam dan aku kembalikan, atau aku adalah tikus yang seringkali mengerogoti uang-uang yang mereka kumpulkan, keduanya sama -sama memiliki tekad yang kuat. Jika berkeinginan akan sesuatu maka mereka berdua akan mengusahakannya. Nah. Berbeda denganku. Aku adalah kakak yang pemalas dan sangat jail dengan mereka. Tapi, kami bertiga sama-sama suka membaca dan mengambar, kami sangat menyukai. Kami juga sangat suka nonton film kartun dan animasi. Jika minggu telah tiba, maka kami akan berebut siapa yang akan bangun duluan dan memilih film yang kami sukai. Siapa yang duluan bangun maka ia punya hak otoritas mengendalikan chanel tv sampai siang hari.
Begitulah setiap minggunya. Banyak sekali, nanti saja akan ku ceritakan lagi tentang kedua adikku ini. Aku hanya ingin menceritakan sedikti perbedaan kami bertiga, perbedaan sebelum kami pamit dan pergi ke kota impian kami masing-masing. Sebelumnya aku ingin sedikit bercerita tentang sikapku kepada kalian, kepada kalian yang sering menganggapku sombong, cuek dan tidak pernah peduli dengan orang lain. Mohon maaf, terserah apapun pendapat kalian akan hal itu, bagaimanapun sikapku di masa sd, smp, sma bahkan saat ini di bangku kuliah aku tidak peduli, aku tidak akan membela diri atau menjelaskan panjang lebar . Aku hanya ingi meminta maaf.
“ maaf mah”ucapku lirih

“maaf kenapa nak?”

“maaf ardi tidak bisa menjadi kakak yang baik buat adik-adik, dan belum bisa menjadi anak yang baik bagi amah dan apah”

“kalian bertiga memang berbeda, namun begitu spesial”.

“tapi, mereka berdua anak amah dan apah yang terbaik, mah. Percayalah ma, suatu saat keduanya akan membanggakan amah dan apah, insya allah”

“insya allah, nak”


Di antara kami bertiga, baik aku, nefri dan mualif. Yang pertama kali meninggalkan rumah dan pergi merantau adalah nefri, adikku. Saat itu, pada tahun 2008, baru beberapa minggu ia siap ujian nasional smp, dan baru beberapa hari menerima berita kelulusan ia langsung memutuskan ingin sekolah di pekanbaru. Aku tahu bagaimana perasaannya, untuk seorang adik yang lebih sangat pintar dan cerda di antara kami bertiga dia memiliki watak yang keras dan pendirian. Namun kadang sikap ini yang membuatnya selalu jatuh dari bintang kelas menjadi bintang laut, sikap blak-blak dan emosional. Saat ia berangkat, aku waktu itu sedang berada di cibubur dalam sebuah kegiatan. Kebetulan juga beberapa hari seblum aku berangkat kami bertengkar dan aku belum sempat minta maaf, dan begitupun ia. Nefri pergi dan ingin sekolah jauh dari rumah, jauh dari amah dan apah dan jauh dari aku dan adik-adikku karena ia merasa berbeda, merasa diperlakukan berbeda itu yang membuatnya tidak ingin di manna itu yang aku tahu, tapi ntah sejuah ini mungkin nefri yang lebih tahu akan keinginannya . 
Aku adalah yang paling bodoh diantara keduanya, namun semenjak sd dan smp kami selalu sekolah di sekolah yang sama, kecuali nefri di waktu sma. Semenjak sd, smp dan sma, tidak ada yang tahu kalau kami bertiga bersaudara, yang tahu kami adik kakak hanya teman-teman yang sangat dekat denganku saja. Bahkan di sekolah kami seperti tidak saling kenal, bahkan kadang dari menunggu angkot, naik angkot sampai-sampai duduk di kantin atau mengantri diperpustakaan kami seperi orang lain, sekali lagi saling tidak kenal mengenal. Hal ini terjadi, sampai aku tamat sma dan guru-guru di sekolah baru tahu kalau mualif adalah adik kandungku, adik yang terlahir dari satu rahim denganku. Begitulah aku bersikap dan begitulah aku memperlakukan adik-adikku, dengan adik-adikku mudah saja bagiku seperti itu apalagi terhadap orang lain, dan kalian. Namun, satu hal yang perlu kalian tahu sahabatku, seperti apapun sikapku tapi aku merasakan dan aku meilhat.
Begitulah Nefri pergi, pergi dengan meninggalkan kesedihan dan rasa takut terhadap keadaan nefri yang jauh dari dari kami. Begitulah nefri yang dulu, percaya atau tidak kini dia telah berubah. Berubah 100 %, nefri yang penakut, bahkan sangat penakut untuk ke kamar mandi dan lampu mati kini begitu berani , bahkan sangat pemberani. Nefri yang kini jauh lebih penyayang, lembut, dan shalat selalu tepat waktu, bahkan selalu senangtiasa melakasanakan tilawah dan membaca al-qur’an seusai shalat, subhanallah aku tertegun. Engkau saudara terbaikku, aku mencintaimu. Usai kepergian nefri, maka kami satu persatu pergi meninggalkan amah dan apah, membiarkan amah dan apah menghadapi semua masalahnya berdua.
Dua tahu kemudian, pada tahun 2010, akupun pergi merantau dan kuliah di tanah yang sudah aku mimpikan sejak aku masih smp. Aku kuliah dan jauh dari amah dan apah, kepergianku jelas berbeda dengan nefri, sedih dan tangis yang terurai dari raut wajah amah dan apah serta bibi dan keluargaku yang lain jelas berbeda. Aku pergi dengan meninggalkan kesan yang mendalam bagi semuanya, aku memeluk dan mencium tangan dan pipi amah dan apah, dengan lirih berkata “ ardi menyayangi amah dan apah”. Jelas saja adikku nefri tidak kan mau dan pernah melakukan hal ini, tapi ntahlah. Aku memeluk amahku yang lainnya, amah keduaku yang sudah membesarkan dan mendidikku sejauh ini, amah ayu yang juga ku buat menangis haru dan terguguh sampai-sampai ketiga sepupuku hanya terdiam melihat aku yang memluk amah dan menangis tak tertahankan. Saat itu aku pergi membawa janji, membawa tetesan air mata yang teruruai oleh, membawa rasa cinta orang-orang yang begitu mencintaiku, mengenggem erat setiap ucapan dan rasa sayang mereka. Aku berjanji tidak akan mengecewakan mereka, itu janjiku untuk cinta mereka.
Aku mencintai mereka. Begitu mencintai mereka melebihi diriku sendiri. Tepatnya, dua tahun berlalu. Liburan semeseter kini cukup pendek. Dan aku memutuskan untuk liburan ke manna. Ya itu, kini aku tepar hanya bisa tiduran karena rasa letih dan penat. Menyambung sakit yang sempat beberapa minggu yang lalu. Kini aku memasuki semester enam, sekarang tahun 2013, dan aku pulang berlibur. Sayangnya aku tidak menemuakan adikku maulana mualif di rumah, baru beberapa bulan yang lalu, di tahun 2012 ia berangkat ke jogja tanah mimpinya. Aku hanya menemui adik-adikku yang kini remaja-remaja tanggung yang pikiran meraka jauh dari pemikiranku saat ini. Dan akupun mendapatkan cerita ini sahabatku, cerita yang membuatku menguraikan untai kata sepanjang ini. Adikku maulana mualif, yang petuh dan tidak pernah melawan kepada amah dan apah, bahkan tidak pernah membantah sekalipun. Adikku yang membuat amah dan apah sangat tersentuh dengan setiap keistimewahan tutur dan sikapnya. Adikku yang memiliki kekurangan, namun begitu sempurna hati dan sikapnya. Adikku yang tidak pernah mengeluh, adikku yang senangtiasa ada saat detik-detik aku butuhkan, yang senangtiasa memberikan semua miliknya untuk. Bahkan barang yang sangat ia sayangi, terakhir memberiki jaket stelan jas bewarna hitam untukku.
Sebulan sudah adikku di jogja, maulif berangkat ke sana untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, untuk tahap awal ia sudah lulus. Sekarang tes tahap kedua untuk memperoleh beasiswa penuh dikampus yang ia inginkan di sana. Namun, lama ia menunggu dan hasilnyapun keluar. Ternyata adikku ini, tidak lulus beasiswa penuh, hanya mendapatkan beasiswa keringan uang kuliah. Namun, ia bersikukuh tetap ingin beasiswa penuh dan sempat berpikir dan tidak ingin kuliah terlebih dahulu. Ia ingin bekerja dulu di sana, dan mengumpulkan uang untuk membiayai kuliah secara mandiri. Karena tidak ingin merepotkan amah dan apah, ia tahu amah dan apah begitu kelelahan membiayai kuliahku dan nefri serta sekolah ketiga adik-adikku. Ia ingin membantu amah dana apah saat itu. Hal itulah yang membuat apah menghubungiku untuk membujuk adikku yang satu ini untuk kuliah, dan itupun aku lakukan. Setalah membujuknya untuk kuliah, iapun mau kuliah, yaitu kuliah di jogja. Nah, kini aku yang diminta oleh adikku ini untuk membujuk amah dan apa, dan akupun melakukannya. 
Akhirnya maulif untuk beberapa minggu ke manna, ia pulang sekalian mau mengantarkan ummi atau nenekku pulang ke kampung, batusangkar, sumbar. Karena menunggu mualiflah ummi belum pulang dan karena ummilah mualif pulang.
Satu hal yang baru ku pahammi, jika aku begitu romantis dan puitis dengan setiap untaian dan kata-kataku, namun adikku yang satu ini begitu romantis dan menyentuh hati semua keluargaku dengan setiap tindakan dan sikapnya. 
Tibalah masa hari raya idul adha tahun 2012 yang lalu, tepat menjelang hari raya ia mengeluarkan bingkisan untuk amah dan apah. Bingkisan yang sudah ia simpan cukup lama setelah kepulangan dari jogja, dia membelikan baju yang sama untuk amah dan apah pakai di hari raya idul adha. Kalian tahu, amah dan apah sangat mudah sekali tersntuh hatinya, mudah sekali menitikan air mata. Sekali lagi amah dan apah terguguh olehnya, aku tahu siapa yang ia ikuti, perangai siapa yang ia ikuti? Aku sangat tahu. Dia adikku, sekali lagi adikku. Apa kegiatan dan tindakan yang tidak pernah ia contoh dan ikuti. Hampir semua yang aku lakukan iapun melakukannya. Bahkan ia melakukannya jauh lebih baik, oh tidak bahkan sangat jauh lebih baik darikku.
Ini belum berakhir, hal yang membuatku terharu, bahkan sangat terharu sampai-sampai aku meneteskan ari mata oleh sikapnya, sungguh aku belumpernah melakukan hal ini kepada amah dan apah, aku hanya berani mencium kedua kakinya di kala tidur. Tapi, aku belum pernah melakukan apa yang telah ia lakukan kepadan amah dan apah, aku merinding mendengar dan menginggatnya. Aku melihat air muka amah saat menceritakan kepadaku, mata amah berarair dan terurai. Dengan tenang ia memanggil amah keluar dari rumah menjelang keberangkatanya ke jojga, awalnya amah agak enggan. Namun, pada akhirnya amah mengikuti adikku. Di mintanya amah duduk, kemudian dia mengambil ambil air yang sudah ia sediakan di sebuah wadah kecil. Seketika itu juga kedua kaki amah di basuh, di cuci oleh adikku yang begitu istimewah dalam keluarga kami . Dengan perlahan ia cuci kedua kaki amah, aku tidak mengerti mengapa ia mencuci kedua kaki amah,. Tapi satu hal yang ku pahami, betapa dia lebih menyayangi amah daripada aku.
Hari ini, keduanya begitu luar biasa. Yang satu selalu rutin dengan ibadah dan tilawahnya. Sedangkan yang satu lagi sibuk dengan aktivitas dakwah dan hafalan qur’an. Sedangkan aku, aku selalu saja tertinggal oleh keduanya. Aku yang bertekad ingin menjadi anak yang terbaik bagi amah dan apah. Tapi keduanya selalu menjadi belahan dan hadir dengan indah di hati keduanya. Aku selalu saja kalah, selalu saja kalah. Namun keduanya tak pernah menyadarinya, aku begitu kelihatan diperhatikan amah dan apah. Namun keduanya begitu  pesial bagi keduanya......
.
Begitu spesial...
Ku harap kalian menyadarinya, adik-adikku


padang, 05/2/2013 16:35 pm

arai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai