Tinggal Kelas
TINGGAL Kelas
By. Ardiles
“Hadirin yang berbahagia, siswa yang menempati
juara umum kelas XII Jurusan IPS tahun ini. Juaranya adalah....”
Sesaat pembawa acara pada hari pembagian rapor
pagi ini diam sejenak, walau samar namun aku dapat mendengar deruh nafasnya
yang naik turun melalui mix yang berada di depan mulutnya. Seakan ingin membuat
penasara para orangtua yang hadir, dengan melempar senyum yang sangat menawan,
Ibu Sarah guru Bahasa Indonesia yang pernah menjadi wali kelasku, berusahan
menyoroti pandangannya keseluruh undangan yang hadir.
“Marilah kita sambut wali murid dari siswa kita
yang menjadi juara umum tahun lalu, dan sudah tiga kali berturut-turut
menempati posisi juara kelas dan umum di Jurusan IPS. Siswa yang beberapa waktu
lalu, juga menjadi wakil dari SMA kita di ajang OSN Nasional Tingkat Kabupaeten
Bengkulu Selatan di Bidang IPS dengan mendapatkan Juara II dan berhak mewakili
sekolah kita di OSN Nasional Tingkat Provinsi Bengkulu. Kepada wali dari Siswa
kita yang bernama Ardiles di persilahkan untuk maju ke depan.”
Sejenak ruangan yang tadi riuh oleh kegaduhan
para undangan, kemudian menjadi hening seketika pembawa acara selesai
menyebutkan nama siswa yang menjadi juara umum kelas XII Jurusan IPS tahun ini.
Sesaat kemudian gemuruh tepuk tangan seketika buncah memenuhi seisi aula, saat
seorang wanita separuh baya berdiri, dengan mengenakan pakaian yang tidak
begitu mewah, namun sangat mencolok karena warnanya yang tidak profesional.
Wanita berkerudung coklat itu, memandang lekat ke seluruh penjuru ruangan,
sambil sesekali melemparkan senyum yang terlihat begitu kaku. Wanita paruh baya
itu, lalu berjalan sambil mengendong seorang anak laki-laki yang berumuran
sekitar tiga tahunan.
Ku lihat air muka Amah yang cemas namun
bercampur bahagia. Aku tahu dan sangat memahami kenapa Amah kelihatan begitu
gugup. Ini bukan sekali dua kali seperti ini. Tapi, Amah memang tidak terbiasa
dengan keadaan seperti ini. Amah yang hanya bisa ku lihat dari balik cermin
jendela gedung aula sekolah, kelihatan begitu merasa aneh dengan keadaan yang
dialaminya. Acara pembagian rapor kenaikan kelas di SMA-ku sangat berbeda jika
dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang lain di daerahku, karena pada saat
kenaikan kelas yang akan mengambil rapor dan berdiri di depan podium itu adalah
wali atau orangtua dari siswa. Amah sudah berkali-kali mengambil raporku
semenjak dari SD sampai SMP. Namun, ketika pembagian rapor di SMA, Amah harus
berdiri di depan puluhan wali murid lainnya. Berdiri dengan pakaian yang sangat
sederhana, berbeda sekali dengan orangtua teman-temanku yang pakaian serba
mewah dan sedang trendnya, sepatu kulit mengkilat, jilbab yang masih memiliki
warna yang sangat cerah. Tidak seperti jilbabnya Amah.
Tapi, aku merasa bahagia bisa membuat Amah
begitu menonjol dari wali murid yang lainnya. Walau Amah tidak memiliki pakaian
sebagus Ibu teman-temanku, setidaknya aku telah menjadi anak terbaik baginya
pada hari pembagian rapor kenaikan kelas. Pujian guru-guru dan Kepala sekolah
kepada kami siswa-siswa yang menjadi juara umum tiada henti-hentinya
membesarkan hati orangtua kami yang hadir. Salah satunya hati Amah, bagaimana
Amah tidak senang dan bangga? dari kelas X sampai kelas XII hanya aku seorang
laki-laki yang menempati posisi di juara umum, terlebih lagi aku berada di
juara 1. Sedangkan yang lainnya adalah siswa perempuan.
***
“Selamat pagi anak-anak ibu”.
***
“Selamat pagi anak-anak ibu”.
“pagi bu.....”.
“Baiklah anak-anak yang ibu sayangi, sebelumnya Ibu ucapkan
selamat, karena anak-anak Ibu sudah berada di kelas dua sekarang”.
“iyaaaa buuuu”
Hari ini, hari pertama masuk sekolah setelah
libur panjang kenaikan kelas. Ku lihat ruangan kelas tidak ada perubahan, walau
dua minggu aku tidak memasuki kelas. Meja, kursi, papan tulis, kotak sampah,
dan gambar-gambar para pahlawan yang terpajang di dinding tetap sama seperti
beberapa minggu yang lalu. Hanya saja rerumputan di halaman dan lapangan yang
sudah tumbuh subur dan tinggi, dedaunan yang berguguran dari pohon-pohon besar
yang tumbuh di pekarangan SD-ku sudah memenuhi dan bertebaran ke seluruh
penjuru sudut sekolah.
“Anak-anak Ibu yang pintar, di kelas kalian yang baru kalian akan mendapatkan tambahan teman baru.” Ku lihat mata wali kelasku melirik ke arahku. Aku sudah tahu maksud tatapan itu, dan aku sudah menebak arah pembicaraan wali kelasku ini. Satu tahun sebelumnya aku sudah cukup mengenal bagaimana sikap dan cara belajar wali kelasku.
“Anak-anak Ibu yang pintar, di kelas kalian yang baru kalian akan mendapatkan tambahan teman baru.” Ku lihat mata wali kelasku melirik ke arahku. Aku sudah tahu maksud tatapan itu, dan aku sudah menebak arah pembicaraan wali kelasku ini. Satu tahun sebelumnya aku sudah cukup mengenal bagaimana sikap dan cara belajar wali kelasku.
huuu...
“kenapa mesti Ibu ini lagi yang menjadi wali di kelas ini? Tidak adakah guru yang lain?” keluhku
“kenapa mesti Ibu ini lagi yang menjadi wali di kelas ini? Tidak adakah guru yang lain?” keluhku
“Anak-anak, di kelas kita ada beberapa orang
yang tidak naik kelas III pada tahun ini. Jadi Ibu pesan agar kalian jangan
sampai seperti mereka, belajarlah dari kesalahan orang lain dan jangan sampai
kalian juga tidak naik ke kelas III tahun depan. Mengerti anak-anak Ibu?”
“iya bu....!” jawab bocah-bocah ingusan kelasku yang tidak terlalu peduli dan mengerti dengan apa yang di sampaikan wali kelasku. Karena ini hari pertama masuk sekolah dan waktu belajar belum begitu berjalan dengan kondusif. Biasanya semua wali kelas hanya akan memberikan arahan atau sekedar menyapa murid-murid yang telah berhasil naik kelas. Tapi, tidak untuk murid-murid yang tahun ini harus tinggal kelas. Suasan baru, kelas baru, wali baru dan kecerian serta semangat baru yang di rasakan siswa yang naik kelas tidak akan sama dengan yang di rasakan oleh siswa-siswa yang tinggal kelas. Hanya rasa malu, takut, putus asa, terpojokan merasa orang yang paling sial. Di saat siswa dan siswi yang lain menikmati kecerian di kelas baru. Maka siswa dan siswi yang tidak naik kelas hanya bisa tertunduk lesu sambil tiduran di meja yang sudah satu tahun menemaninya. Kasihan anak-anak yang tidak naik kelas. Tidak ada uang jajan tambahan, tidak ada seragam baru, tidak ada sepatu baru, tidak ada tas baru, tidak ada pensil, pengahapus, buku tulis dan kontak pensil baru. Hanya bisa menggunkan perlengkapan tahun sebelumnya, karena hanya anak yang naik sajalah yang akan mendapatkan hadiah dan perlakuan istimewah dari orangtua dan para guru-guru. Sedangkan untuk yang tinggal kelas sepertiku, hanya akan menjadi cemooh dan jadi contoh keburukan bagi yang lain.
Baru dua hari sekolah, aku sudah berdiri di belakang papan tulis hitam. Berdiri dengan sebalah kaki sambil kedua tangan di silangkan memegang kedua daun telinga. Teman-temanku hanya tertawa melihatku yang dihukum berdiri karena tidak membuat PR dan saat di minta mengerjakan PR matematika di depan tulis, aku hanya sibuk menghapus berulang-ulang dengan tanganku, karena tidak mengerti. Saat aku di hukum berdiri di belakang papan tulis, yang akhirnya membuat tawa teman semakin riuh ketika melihat muka dan rambutku sudah putih dengan kapur, aku lupa mencuci tanganku.
“iya bu....!” jawab bocah-bocah ingusan kelasku yang tidak terlalu peduli dan mengerti dengan apa yang di sampaikan wali kelasku. Karena ini hari pertama masuk sekolah dan waktu belajar belum begitu berjalan dengan kondusif. Biasanya semua wali kelas hanya akan memberikan arahan atau sekedar menyapa murid-murid yang telah berhasil naik kelas. Tapi, tidak untuk murid-murid yang tahun ini harus tinggal kelas. Suasan baru, kelas baru, wali baru dan kecerian serta semangat baru yang di rasakan siswa yang naik kelas tidak akan sama dengan yang di rasakan oleh siswa-siswa yang tinggal kelas. Hanya rasa malu, takut, putus asa, terpojokan merasa orang yang paling sial. Di saat siswa dan siswi yang lain menikmati kecerian di kelas baru. Maka siswa dan siswi yang tidak naik kelas hanya bisa tertunduk lesu sambil tiduran di meja yang sudah satu tahun menemaninya. Kasihan anak-anak yang tidak naik kelas. Tidak ada uang jajan tambahan, tidak ada seragam baru, tidak ada sepatu baru, tidak ada tas baru, tidak ada pensil, pengahapus, buku tulis dan kontak pensil baru. Hanya bisa menggunkan perlengkapan tahun sebelumnya, karena hanya anak yang naik sajalah yang akan mendapatkan hadiah dan perlakuan istimewah dari orangtua dan para guru-guru. Sedangkan untuk yang tinggal kelas sepertiku, hanya akan menjadi cemooh dan jadi contoh keburukan bagi yang lain.
Baru dua hari sekolah, aku sudah berdiri di belakang papan tulis hitam. Berdiri dengan sebalah kaki sambil kedua tangan di silangkan memegang kedua daun telinga. Teman-temanku hanya tertawa melihatku yang dihukum berdiri karena tidak membuat PR dan saat di minta mengerjakan PR matematika di depan tulis, aku hanya sibuk menghapus berulang-ulang dengan tanganku, karena tidak mengerti. Saat aku di hukum berdiri di belakang papan tulis, yang akhirnya membuat tawa teman semakin riuh ketika melihat muka dan rambutku sudah putih dengan kapur, aku lupa mencuci tanganku.
“teng... teng... teng...”
“Jam istirahat” tebakku. Ku lihat wali kelasku sudah bersiap meninggalkan
kelas, dan teman-temanku juga sudah menyimpan buku-buku ke dalam tas meraka.
Aku sadar betul hukumanku sudah berakhir.
“Cukup” ucap Ibu Juna wali kelasku
“Makasih bu”balasku sambil tertunduk takut tak berani menatap
wajah wali kelasku
“Besok jangan diulangi lagi, dan jangan lupa PR di papan tulis di salin. Besok di kumpul”tagasnya
“iya, Bu”lirihku tetap penuh cemas dan takut Lalu aku berjalan menuju tempat dudukku yang berada di pojok paling belakang. Ku buka tasku dan ku keluarkan buku tulis untuk mencatat tugas untuk besok yang sudah di catatkan Ibu. Belum sempat aku mencatat, ternyata setalah aku lihat tulisannya hanya tinggal sebagian.
“Besok jangan diulangi lagi, dan jangan lupa PR di papan tulis di salin. Besok di kumpul”tagasnya
“iya, Bu”lirihku tetap penuh cemas dan takut Lalu aku berjalan menuju tempat dudukku yang berada di pojok paling belakang. Ku buka tasku dan ku keluarkan buku tulis untuk mencatat tugas untuk besok yang sudah di catatkan Ibu. Belum sempat aku mencatat, ternyata setalah aku lihat tulisannya hanya tinggal sebagian.
“ini pasti kerjaan Farman”lirihku kesal Farman adalah teman sekalas yang
sama-sama tidak naik kelas III denganku, Ia selalu menganggu dan mengolok-olokku
di kelas. Aku heran kenapa Dia tidak kena hukuman pagi ini, aku yakin Dia yang
akan menjadi temanku saat kena hukuman tidak membuat PR matematika. Aku tahu
betul Farman, Dia begitu pemalas dan Dia sudah dua tahun tinggal di kelas II.
Bahkan bisa ku pastikan Dia lebih malas dari aku. Salah satu alasan yang
membuat ku tidak naik kelas adalah karena jarang masuk sekolah, aku sering
bolos karena takut sama teman-temanku. Aku sering dikerjai oleh Farman dan
teman-temannya yang saat ini sudah berada di kelas III. Aku minder dan selalu
menyendiri di kelas, sikap teman-temanku membuat menjadi tidak bersemangat
untuk sekolah. Ditambah lagi karena sering jarang masuk dan bolos sekolah aku
banyak tidak mengerti pelajaran. Aku tahu
kenapa Farman tidak kena hukuman pagi ini, ternyata Dia datang lebih awal ke
sekolah pagi tadi. Dan sudah ku tebak, pasti Dia mencontek punya teman. Aku
tahu betul tabiatnya. Kalau ada yang berani melawan dan menolak keinginannya,
maka bogam mentah pasti melayang ke salah satu bahu mereka yang menolak atau
kalau tidak tamparan yang akan menempel di salah satu pipi mereka.
Teman-temanku semuanya takut kepadanya, dan termaksud aku, tidak ada yang
berani mengadu kepada wali kelas.
“Sial, gimana caranya mau ngerajainnya. Soalnya aja ngak tahu!”
“Dasar penganggu”
Aku hanya menatap kosong papan tulis, perlahan-lahan
tulisannya mulai menghilang satu persatu. Farman terus menghapus tulisan itu
satu-persatu, dan aku hanya bisa tertegun tak berdaya melihat tingkah Farman.
“Di, ini kalau mau nyalin tuganya” seseorang teman
menyodorkan buku catatannya kepadaku. Ia langsung duduk di kursi sebelahku yang
kosong. Sambil tersenyum kepadaku, ku lihat wajahnya yang cantik dan matanya
yang sipit semakin membuatnya bertambah manis ketika kedua pipinya membentuk
lubang kecil, lesung pipit.
“kok, bisa ngak buat tugas?”tanya Suci penuh antusias.
“aku ngak tahu cara ngerjainnya Ci” jawabku datar.
Sampai sekarang pertanyaan itu masih mengisahkan tanda tanya
di pikiranku. Satu hal yang ku tak mengerti, padahal satu tahun sebelumnya aku
sudah mempelajari pelajaran itu. Tetap saja walau aku mengulang pelajaran itu,
aku masih tetap kesulitan.
“oh, salin yang cepat yah Di. Bentar lagi istirahat berakhir
loh!” seru Suci
“iya Ci, sedikit lagi” sambil menyalin dengan cepat, ku
perhatikan tulisan ku yang jelek seperti cakar ayam tidak memiliki seni dan
keindahan sedikitkpun. Sekilas ku lihat Suci yang masih duduk di sebelahku
hanya tersenyum melihat tingkahku.
“Jangan lupa buat dikerjain yah Di” sambil mengedipkan mata
sebalah kanan Suci mengancungkan jempol kanannya kepadaku.
Dan aku hanya bisa membalas dengan senyuman, kata-kata Suci
kepadaku. Sesaat kemudian aku merasakan ada yang beda terhadap suasana hatiku.
Karena tidak naik kelas, pikiranku selalu dipenuhi pikiran-pikiran negatif,
curiga dan selalu merasa tidak akan ada yang mau dekat atau menjadi temanku. Siang itu, semua ketakutanku hilang.
Perasaan takut tidak ada teman sekelas yang peduli denganku seketika itu luntur
dari pikiranku.
“tak semua orang menjauhiku, tak semua orang menganggapku
aneh. Walau hanya seorang tapi itu lebih cukup membuatku merasa punya teman.
Terima kasih Ci” lirihku. (4 Juni 2012. 10.25 am)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar