PROSES MENG-COPY PASTE
Proses
meng-copy paste
Tak
ada larangan dalam mengamati seseorang, bahkan ada larangan dalam meniru dan
menginovasi sebuah produk. Yang dikenakan pelanggaran bahkan produk yang sering
masuk dalam perkara hokum dikala produk yang ada dicopi paste. Ntahkah itu buku
hasil tulisan seseorang akan penemuannya baik berupa buku, dan hasil penemuan
seorang ilmuan dari hasil risetnya ntahkan itu berupa sebuah mesin ataupun
serum dan zat. Banyak lainnya.
Berbeda
halnya dengan amalan, berbedanya konteks beribadah dalam Islam. Proses meniru
bahkan meng-copy paste amalan yaumiyah seseorang tak adalah larangannya. Bahkan
teringat dalam sebuah acara seminar penulisan yang dihadir oleh Tere-Liya
beberapa saat yang ketika berkesempatan menjadi moderator pada acara tersebu.
Beliau sama sekali tidak merasa marah bahkan kecewa ketika dari sekian banyak
buku yang beliau tanda tangani ada beberapa buku bajakan yang mungkin dibeli
dipasar loak. Namun dengan santai beliau tetap membubuhkan tanda tangannya.
“tidak masalah bagi saya jika mereka membeli bajakan, setidaknya meraka
mendapat ilmu atau mungkin dapat
mengamalkan beberapa hikmah yang terdapat dinovel saya”.
Begitulah
sikap seseorang yang ia menulis untuk berbagi manfaat, namun bukan berarti beliau melegalkan dan menghalalkan
pembajakan atas hak cipta seseorang. Beliau hanya berusaha ber-husnuzhon dalam
segala hal yang terjadi.
Sungguh
menyenangkan sekali dapat menjadi pribadi yang demikian, yang senangtiasa
berbagi manfaat dan menularkan kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya.
Demikian juga ketika kita telah duduk berkumpul dalam sebuah halaqah, taklim
ataupun mentoring. Ketika kita menikmati telah duduk dan berada diantara
pribadi-pribadi yang senangtiasa memperbaiki dirinya, membaca Al-Qur’an,
mengamalkan setiap baitnya, menjalankan sunnah, senangtiasa terjaga wudhunya,
terjaga dipertiga malam, dan senangtiasa memanjangkan bacaan shalatnnya baik
dalam qiyamul lail serta dhuhanya serta dalam setiap shalat sunnahnya.
Terpancar
kejernihan hatinya diwajahnya, wajah yang tak berias sama sekali akan terpancar
perhiasan amalan ibadahnya. Melekatlah kemulian baik-bait ayat Al-Qur;an dalam
setiap tingkah lakunya, terbias dalam senyum dan perbuatannya dan begitu terasa
hangat ketika berjabat tangan dengan orang-orang yang selalu konsisten dalam amalan hariannya.
Menyalurkan
ghirah, bahkan seolah kehadirannya membuat diri tergerak mengikuti amalan yang
ia lakukan. Ketika telah usai bersujud dan menengadahka tangan pada sang Rabb
pengabul keinginan, dikeluarkanlah mushab yang telah lusu lembaran-lemabarannya
karena telalu sering dibolak-balik.
Setiap
kali bertemu sahabat yang demikian, selalu saja timbul keinginan meniru semua
yang ia lakukan. Ketika ia membaca Al-Qur’an tak mau kalah juga ikut serta
membaca, ketika ia telah selesai satu jus, timbul keinginan di diri melanjutkan
satu jus lagi. Ketika ia dhuha 6 rakaat, timbul keinginan yang lebih kuat di
diri untuk dhuha 8 rakaat selalu ingin menjadi lebih baik ketika berjumpa dengan
ikhwan yang senangtiasa konsisten dalam ibadahnya.
Berusaha
sekuat tenaga, mencopy paste cara dan amalannya diluar sepengetahuannya. Meniru
apa saja yang membuatnya begitu terlihat bahagia, bahkan setelah mengamati dan
meniru berusaha untuk menginovasi dan melakukannya jauh lebih baik.
Selama
proses meng-copy paste amalan seseorang tak dilarang, so silahkan disedot semua
kebaikannya yang ada. Bahkah jadikan berlimpah ruah dan dengan senang hati
membuat orang-orang lainnya ikut serta meng-copy paste amalan dan ibadah
keseharian kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar