SEMUANYA AKAN BERBALAS
Semuanya
Akan Berbalas
Semuanya
akan terpaut, tak ada yang terlepas pada jalurnya. Ketika tangan yang diulurkan
harus bersambut. Layaknya rasa hormat berbalas dan bertaut dengan rasa dan
sikap yang santun. Tak ada senyum yang tak berbalas, tak ada kebaikan yang tak
berbalas dan tak ada cinta yang tak berbalas.
Jika
karma yang menjadi landasan dalam segala perbuatan, mungkin pemikiran ini harus
sedikitnya harus diputar dan sedikit diarahkan kepada hakikatnya. Allah telah
menerangkan dalam untai cintanya. Bahwa sebesar zarahpun amal kebaikan akan
dibalas, dan sebesar apapun amal keburukan juga akan Allah balas.
Senyum
berbalas senyum, sederhana sekali. Ketika pagi, siang, dan malam kita bisa saja
bertemu dengan siapapun dan kita dapat menyapa mereka kapanpun kita mau.
Tergantung suasan hati. Jikalau kita memahami sebuah senyum merupakan amal
ibadah yang akan menjadi pahala yang berlimpah maka siapapun tak akan
melewatinya. Karena senyum yang paling ikhlas dan diberikan dengan penuh
ketulusan merupakan seikat sedekah yang kita tuangkan ke dalam hati seseorang
yang kita temui, pasti akan berbalas.
Sayangnya
dalam pergaulan keseharian yang terjadi, bahkan yang sering ku alami. Semua
orang inginnya dimengerti tanpa mau mengerti orang lain. Betapa “egoisnya” yang
seringkali mengeracau bahwa “mereka tak pernah mengerti aku”. Rugi sekali jika
tidak kita yang terlebih dahulu yang memulai. Bisa saja nanti akan bertunas
prasangka dan lalu berbuah curiga akhirnya membusuklah ia menjadi rasa salah
paham yang menghancurkan sebuah ikatan.
Kadangkala
perkara sederhana bisa menjadi masalah yang teramat luar biasa hanya karena
tidak saling mengerti. Sama halnya dengan kisah yang terjadi antara Umar Bin
Khathab dan Abu Bakar Ash-shidiq. Manakala suatu masa berduanya sedang berjalan
dan berjalan berlainan arah. Ketika keduanya berpapasan tiada satupun yang
saling menegur ataupun mengucapakan “salam”. Keduanya hanya diam tanpa satu
katapun hingga keduanya sama-sama berlalu dan meninggalkan jejak masing-masing
dalam satu garis lurus ketika bahu saling bertemu.
Mengenai
kejadian ini, Abu Bakar r.a menyampaikannya kepada Rasulullah saw. “wahai
Rasulullah tadi ketika aku berjumpa dengan Umar, beliau sama sekali tidak
menyapaku. Ku tidak tahu apa salahku kepadanya”. Menanggapi pernyataan
khalifahAbu Bakar, Rasulullah langsung menanyakan hal tersebut kepada Umar.
“apa benar demikian yang Abu Bakar sampaikan wahai Umar?”Tanya Rasulullah.
Umar
bin Khathab r.a dengan wajah yang teduh dan penuh wibawa menjawab tulusnya.
“wahai Rasulullah, aku hanya memberikan kesempatan kepada Abu Bakar untuk
terlebih dahulu menyapaku. Aku tahu beliau lebih utama dariku. Maka aku ingin
beliau mendapatkan pahala yang lebih besar dariku. Bukankah yang terlebih
dahulu mengucap salam, lalu menyapa dan tersenyum ke saudaranya itu lebih baik
daripada yang membalasnya wahai Rasul Allah” jelas Umar.
Begitulah
dalam pergaulan para sahabat, mereka selalu mengutamakan saudaranya daripada
dirinya. Bahkan untuk hal sederhana yang demikian menjadi perhatian seorang Umar,
laki-laki pemilik bidadari bermata jeli dan limited
edition. Semuanya harus berbalas, jika ada prasangka dihati karena kita
tidak memahmi bahkan tidak sama sekali mengetahui rahasia bahkan hikmah yang
ada dibaliknya.
Demikian
juga hal yang terjadi diantara khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khathab.
Permasalahan sederhana bisa menjadi hal yang luar biasa. Namun sayang sekali
prihal ini menjadi enteng dan ringan bagi kita. Kadangkala prasangka hanya
tinggal dan bertunas hingga ia tumbuh menjadi curiga dan fitnah.
Semua
harus berbalas, layaknya jabat tangan diantara kita dengan sahabat. Jikalau
kita mengulurkan tangan kepada seseorang, namun ia tak mengubris ataupun
menyambutnya sama sekali alangkah sedih dan kecewanya hati ini. Teringat kisah
adik-adik diwisma beberapa waktu yang lalu, bahkan juga terjadi pada diri
sendiri. Hanya karena senyuman menjadi petaka, gara-gera candaan jadi
pertengkaran dan gara-gara jabat tangan jadi saudara yang mengekalkan.
Gara-gara Senyuman
“beribu sahabat yang kita miliki namun serasa sedikit
sekali, akan tetapi satu orang musuh saja serasa tak tenang hidup ini olehnya”
Demikianlah
hati, kadangkala banyaknya sahabat dan orang-orang yang menyayangi kita serasa
tak seberapa. Beda halnya, jika kita memiliki musuh bahkan hanya seorang saja
orang yang tak suka bahkan teramat membenci kita serasa terusik kehidupan kita
akan kritik dan ucapnya. Tak nyaman bahkan menjadi tak tenang hidup ini
rasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar