PERPISAHAN YANG DIPAKSAKAN
Perpisahan yang dipaksakan
“perpisahan
yang dipaksakan itu sangatlah menyakitkan. sangat sulit di terima, begitulah
layaknya kematian datang menghampiri. tak ada yang dapat menebak”
Seperti melihat anak kecil atau seorang bayi
yang sedang asyik bermain, ia menggenggam erat mainan di tangannya. Perlahan
kita berusaha meraih atau merampas dari tangannya. Seketika juga ia akan marah
dan menangis kala dipisahkan dari mainan yang sedang disenanginya.
Suatu kesempatan pernah melihat seorang sahabat
yang salah satunya akan pindah pergi ke suatu daerah bersama keluarganya.
Mereka telah lama berteman dan sudah begitu lama mereka selalu melakukan suatu
apapun secara bersama. Bahkan dari sejak keduanya duduk di bangku taman
kanak-kanak hingga duduk dibangku sekolah menengah atas mereka selalu di tempat
sekolah yang sama. Karena suatu keadaan, salah satu dari keduanya yakni
orangtua salah satunya harus pindah tugas kerja kesuatu daerah. Mau tidak mau
ia harus ikutserta ibu dan ayahnya untuk turut pindah. Karena merasa sudah
begitu lama berteman dan sudah seperti saudara sendiri, berat bagi keduanya
berpisah. Tangis air mata perpisahan tak terelakan jatuh membahasi pipi
keduanya. Melihat dua wanita yang telah bersama dan akan berpisah, begitu
mengharukan. Keduanya memilih sisi kelembutan yang sama, keduanya menempatkan
perasaan atas segalanya. Maka, tak heran jika melihat wanita menangis begitu
menyesakkan. Keduanya harus berpisah karena suatu keadaan. Cerita ini mungkin
biasa bagi kita. Tidak begitu spesial, mungkin perasaan yang terlalu berlebihan
diekspresikan oleh kedua sahabat tadi dalam mendramatisir perpisahan keduanya.
Namun, akan berbeda jadinya jika perpisahan
yang terjadi dalam sudut pandang yang. Jika mereka berpisah karena suatu jarak
saja begitu mengharu birukan. Bagaimana mungkin jika perpisahan yang terjadi
memisahakan ruang, waktu, demensi dan juga tempat, yakni kematian. Pabila kita
berpisah karena suatu jarak. Kita hanya tidak dapat melihat wujud dan fisiknya
secara dekat. Namun, kita dapat merasakan keberadaannya. Akan tetapi, berbeda
jadinya jika perpisahan ini memisakan roh dan jasad. Beralih dunia antara satu
dengan yang lainnya. Kita selamanya tidak akan pernah lagi melihat jasmaninya,
sedangkan untuk merasakan hadirnya begitu sulit, karena ia telah tiadan.
Sungguh, sesakit-sakitnya perpisahan. perpisahan
yang dipaksakan itu sangatlah menyakitkan. sangat sulit di terima, begitulah
layaknya kematian datang menghampiri. tak ada yang dapat menebak. Tidaklah
mudah melalui dan menerimanya. Maka, jika hari ini kita masih diperkenankan
bersama dengan orang-orang yang kita cintai jadi sudah sewajarnya kita
mensyukuri dan memanfaatkan untuk membahagiakannya. Jika perpisahan telah
memisahkan ruang dan waktu maka itu sungguh menyakitkan. Kita tidak akan pernah
mampu melihat wujudnya secara nyata di depan mata. Kematian adalah perpisahan
yang tak akan pernah kita tahu kapan hadirnya, dan hadirnya memisahkan kita
dengan orang-orang yang kita cinta tanpa kita mampu bernegosiasi mengundur
waktu kepergiannya.
By. Ardiles
Tidak ada komentar:
Posting Komentar