MENJAGA HATI
MENJAGA HATI
“kita mungkin bisa menjaga hati kita, untuk
tidak jatuh cinta. Tapi, kita tak akan pernah bisa menjaga hati yang jatuh
cinta kepada kita”
Jatuh cinta itu fitrah ilahi, rahmad dan karunia dari Allah
swt. Kadang tidak mudah bertahan ataupun berpaling dari rasa itu. Dan terkadang
adakalanya kita perlu sentuhan dan juga perhatian dari lawan jenis yang awalnya
kita kagumi dan juga sukai. Semua itu lumrah, dan wajar adanya. Demikianlah
perasaan, teramat senang dan akan merasa nyama jika ada yang memberikan
perhatian atasnya.
Seperti maknanya, yakni “jatuh cinta”. Takala hati telah
jatuh cinta dan hatipun telah mentap untuk mengutarakannya. Maka, takala itu
telah terjadi tak akan mudah untuk kita kembali ke permukaan. Sebab, kala kita
jatuh cinta pada waktu yang tidak tepat dan tak semestinya. Ibarat kita
terjerumus ke jurang perasaan yang dalam. Hati akan hanyut dan terhuyung oleh
badai dan juga selalu penuh gelorah api gelorah yang akan terus
menyalap-nyalap.
Oh, cinta kenapa engkau mesti datang terlalu cepat dan
engkaupun datang tanpa mengucap salam sama sekali.
Oh, bodohnya hati. Kenapa ia terbuka terlalu cepat bahkan
terbuka sebelum waktunya.
“Ku sadari, dan ku
akui. Akupun jatuh cinta kepadamu. Bahkan teramat menyukaimu. Ku ingin
mencintaimu dalam diam. Seperti diamnya cinta Ali bin thalib dan Fathima
Az-Zahra”.
Menjaga hati adalah persoalan penting dalam, dan menjaga hati
bukanlah persoalan hati. Karena ini adalah bagian atau sisi yang teramat
sensitif bagi manusia.
Bagaimana kuat dan kerasnya usaha kita menjaga hati, syetan
selalu saja mengenjarkan tipu dayanya atas kita. Kita akan diserang dari
berbagai sudut dan sisi yang akan melemahkan diri kita. Bahkan tak jarang kita
selalu jatuh telak pada titik terlemah kita. Demikian kodratnya, kita kadang
diuji pada titik pertahan terlemah yang kita miliki. Dan sudah menjadi hal yang
tak asing bagi kita, bahwa sering kita temui aktivis dakwah yang memilih sikap
lemah lembut, sopan dan selalu berbicara dengan penuh perhatian. Kadang hal ini
juga yang sering manfaat oleh syetan untuk memperdaya kita.
Walau kita telah berupaya untuk menghindar dan memangkas
setiap tunas, ataupun benih-benih cinta yang mulai hadir bertumbuh di hati
kita. Tapi, siapa yang mampu menahan jika ada hati yang jatuh cinta kepada kita.
Siapa yang mampu menolak dan memangkasnya kecuali si “dia” yang memiliki rasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar