setting

My Story : ARDILES: 99 Cahaya Di Langit Eropa : Hikmah

99 Cahaya Di Langit Eropa : Hikmah

99 cahaya di langit eropa : Hikmah
By. Ardiles

Beberapa hari yang lalu sempat menonton film yang tertera di atas. Ada hikmah yang menarik sekali, mungkin satu dari sekian banyak hikmah dan ilmu yang diperoleh dari ceritanya. Bukan maksud mencari kelebihan ataupun kekurangan dari alur cerita historis islam novel yang dituangkan dalam cerita bergambar tersebut. Namun ini sebuah mutiara hikmah, yang mungkin dapat menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita.
Ini tentang, sikap dan perlakuan orang lain terhadap kita. Apalagi mulai masuk ke ranah yang sangat sensitif, yaitu memuat unsur SARA : Agama.
Ada yang mengatakan, tidak ada toleransi dalam beragama. “agamamu bagimu dan agamaku bagi ku”
Kita akan mulai meresapi perjalan Rangga, dan sahabatnya. Yang ketika itu akan menunaikan ibadah shalat lima waktu, di salah satu bagian lobi di kampus. Belum sempat menunaikan shalat salah seorang teman perempuannya datang menegur agar tidak melaksanakan shalat di tempat umum, karena hal itu akan menganggu mahasiswa lainnya.
Akhirny, sesuai saran berjalanlah Rangga menuju ruangan sebelah dapur atau ruang masak. Ketika masuk ke dalamnya, mereka berdua keget tidak kepalang.  Saat itu, ada salah seornag keturunan Cina yang sedang berdoa. Ketika mereka liat sekelilingnya, ternyata ruangan itu dipenuhi semua symbol keagamaan yang ada di dunia. Mulai dari patung Budha, patung Yesus dan lainnya.
“apa, kita harus shalat di sini? Yang benar saja!” ucapa teman Rangga
“Ya udah, ngak pa-pa shalat aja” balas Rangga
“diruangan seperti ini? Apakah mungkin?” balas temaan Rangga
“Anggap aja ruang toleransi!” jawab Rangga simple
Walau berdebat dengan tempat aakan melaksanakan shalat, namun pada akhirnya mereka shalat juga.
Inikah toleransi itu?
Ntahlah. Apakah mungkin melaksanakan shalat di tempat demikian?
Mungkin hanya Allah saja yang tahu jawabannya.
Lain halnya dengan perjalanan Pasha, Aisyah dan Hanum, istri Rangga
ketika memasuki gereja.
Ketika lonceng berbunyi nyaring, lilin-lilin menghiasi ruangan dan mereka berjalan menuju benda bening yang memberikan suasana hening oleh cahayanya.
“Pasha, bukankah kita tidaak boleh memasuki gereja atau haram hukumnya?” Tanya Istri Rangga tersebut
“iya!ngak pa-pa” jawab Pasha singkat
“apakah tidak apa-apa?”
“selama hati dan niat kita tidak untuk beribadah dan selama dihati kita hanya ada Allah semaata , kan tidak masalah” balas Pasha sembil mendekatkan keduan tangannya kea pi yang memancar di lilin (menghangatkan badan)
……………………..” hanum hanya terdiam




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai