setting

My Story : ARDILES: Dukaku

Dukaku

DUKAKU
By. Ardiles

Akhirnya aku masuk juga SD, walau di sini, di manna, bengkulu. Beberapa minggu sejak di bawah apah ke manna lagi, hanya berdua. Oleh amahku (adik perempuan apah, etek marnis amah kedua bagiku) aku dimasukan ke sekolah dasar, sd negeri 4 manna bersama dengan adik sepupuku ayu. Walau tidak sempat mengenyam dan duduk di bangku taman kanak-kanak. Saat itu apah belum membawa kami sekeluarga kembali ke manna. Setalah beberapa tahun meninggalkan manna, karena suatu hal (rahasia keluarga, hehehe nanti diceritakan) apah mau ngak mau harus membawa kami sekaluarga pindah ke manna, untuk beberpa waktu, insya allah daam beberapa tahun lagi kami akan pindah dan menetap di kampung halaman amah dan apah. Karena sesuatu yang sangat mendesak dan tidak bisa ditawar-menawar lagi, mau-mau ngak mau kami harus pergi meninggalkan kampung.
Walau pada akhirnya setelah kepergian amah dan apah dari rumah gadang, baik ummi, datuk, mamak-mamak dan etek semua mulai satu persatu meninggalkan rumah gadang setelah aku, nefri , mualif dan elsa pergi. Saat itu elsa masih begitu kecil, dan apah waktu itu harus berjuang dengan keras untuk menafkahi dan menghidupi kami sekeluarga. Saat itu apah terpaksa bekerja dengan temannya dikedai menuman, yang menjual bandrek, wedang jahe, es serut dan lainnya. Setiap malam apah seperti itu, pergi usai ashar dan nanti pulang menjelang jam 12 atau jam 1 dini hari, kebiasaan apah sebelum pergi bekerja, apah selalu menyuruh kami untuk belajar. Kalau sudah belajar dan membuat pr sampai jam 8 malam, setelah itu kami bisa melakukan apa saja. Dan peran amah, sungguh luar biasa selalu menyiksa kami setiap malam untuk belajar (hehe, menyiksa sayang) kalau belum bisa mengerjakan tugas yang amah berikan belum boleh tidur. Begitu setiap malamnya sampai aku duduk dikelas 2 sd, hingga terakhir apah bekerja demikian setalah kejadian menyedihkan menimpaku.
Biasanya jika malam minggu, sabtu sorenya aku ikut apah pergi jualan. Biasanya apah aku dan apah akan singgah dulu dipasar ampera untuk membeli keperluan dan perlengkapan untuk berjualan malam harinya, baik segala keperluan bahan dan bumbunya. Akan tetapi, hari itu cukup sial bagiku, apah yang saat itu sering mengendarai sepeda mustang jika bepergian, karena hanya itu kendaraan yang kami miliki saat itu, dan apah selalu menaikan dan mendudukan aku di depan, antara stang dan tempat duduk sepeda yang sudah diberi kayu diantara keduannya jika aku sudah merek dan minta ikut. Namun, malang tak dapat dihindari. Aku yang terlalu girang dan apah terlalu asyik mengayuh sepeda ditengah keramaian pasar, tak sengaja ntah mengapa kakiku bisa tergelicir dan masuk ke dalam jari-jari sepeda yang berputar cukup kencang. Terang saja stang dan ban muka sepada meliuk dan menghempaskan aku dan apah di tengah pasar. Aku menangis sejadi-jadinya. Perih tak tertahankan, sungguh sangat menyakitkan yang akhirnya membuat kakiku tak bisa berjalan hingga beberapa minggu, dan benjolannyapun sungguh sangat menyiksa, beberapa kali ku cobakan untuk ke sekolah namun sungguh tetap saja membuatku nyeri dan ingin menangis setiap berjalan, untuk peristiwa ini baik amahku tersayang dan amahku etek marnis cukup membuat apah tertunduk mau dan menyesal mendengarkan kemarahan amah-amahku. Itulah akhir dari perjuangan apah bekerja di kedai minuman bandrek di tanah lapang, karena apah dan amah menabung dengan giat, mengumpulkan setiap receh demi receh upah kerja setiap malamnya. Apah mulai merintis lagi untuk menjadi pedagang, dan apah kembali dengan retunitas sering pulang pergi keluar kota, apah mulai belajar berjualan pakaian. Aku yang saat itu sudah agak malas pergi ke sekolah, dan masih dengan luka karena jari-jari sepeda yang kini masih berbekas di tungkai kaki kananku. Apah kembali mengajakku bepergian lagi untuk berbelanja dan jalan-jalan. Akhirnya karena suatu alasan di sekolah yang membuatku tertekan, aku jadi sangat malas dan takut ke sekolah. Sampai terakhir aku pergi berbelaja barang dagangan ke bukit tinggi dengan apah, malah kami kehilangan barang-barang kami, ntah kami ditipu atau dirampok, kami pulang dengan tangan hampa, dan akupun membuat masalah di kampung batu sangkar karena menonjok hidung sepupuku hingga berdarah, di sinilah aku mendapatkan sebuah rasa takut, dendam, minder, marah dan benci sampai ku bawa pulang, dan menjadi ingatan jangka panjangku sampai kini. Walau begitu apah tak tahu, kami pulang dengan kesia-siaan dan aku pulang dengan rasa yang mengelagar diotak dan hatiku. Namun, selama diperjalanan, rasa hangat dan sayang apah tidak mempengaruhi sedikitpun emosi dan perasaannya karena suatu musibah yang menimpa kami. Apah memeluk dan mendekapku selama perjalanan pulang menuju manna, lekat sekali bau dan aroma tubuh apah dihidungku.
Malang, namun tetap saja menghinggapiku. Sesampainya di manna aku tidak naik kelas, aku tingga di kelas 2. Menyedihkan sekali, apakah apah marah? Apah sangat marah, bagaimana tidak semua keluargaku marah, amah, etek dan mamakku marah dan menceramahiku habis-habisan. Tapi, apah tidak berkata apah-apah hanya diam namun cukup bagiku mengerti apah sangat kecewa kepadaku, aku tahu apah sedih dan aku anak sulungnya selalu menjadi harapan terbaiknya, menjadi pengemban mimpi yang tak pernah dapat apah wujudkan, aku merasakan itu. Begitupun amah, aku tahu apah yang amah rasakan. Akan tetapi apah, saat itu mulai mengacuhkan ku.

9.33 pm 15613 sun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai