setting

My Story : ARDILES: Serial : Apahku

Serial : Apahku

SERIAL : APAHKU
By Ardiles

Serangkaian mimpi masih tergiang jelas dalam ingatanku, teringat akan jutaan cerita yang diutarahkan apah, laki-laki yag selalu saja berselisih paham denganku dalam berbegai hal apapun. Baik itu mengenai pendidikan, politik, ekonomi, hukum dan sosial serta lain halnya. Apah punya pendirian tersendiri dan aku pun punya pandangan dan pemikiranku sendiri. Selalu saja tidak pernah saling satu pemahaman. Apah selalu saja tidak mau mengalah dengan aku anaknya, sudah jelas seorang ayah itu mengalah kepada anaknya yang baru beranjak. Namun, apah malah berdebat dan bersilisih pendapat yang hebat dengan Apah.  Apah adalah orang sangat suka dengan permainan olahraga, apapun apah selalu bisa menguasainya dengan baik, namun hanya satu sangat aah sukai dan teramat apah gemari, yaitu permainan dan olahraga sepak bola. Sejak kecil hingga sekarang apah sangat gemar bemain, akan tetapi terakhir aku melihat apah bermain bola saat aku masih duduk dibangku SMP apah masih sering aku lihat bermain bola bersama aku, adik-adikku dan teman serta tetangga. Apah bermain dengan gesit dan lincah, bola di kakinya meliuk-liuk dan menari dengan indah aku tak pernah menyangka apah akan begitu lincah ditengah umurnya yang sudah 40`an. Aku, aku haya duduk menonton karna tidak suka bermain. Dan aku hanya menatap dari kejauhan. Padahal bola yang dipakai bermain adalah bola yang aku beli bersama adikku. Walau kadang-kadang aku juga diikutkan bermain, yang hanya jadi penjaga gawang dan selalu saja kebobolan.
Salah satu bukti betapa apah sangat mencintai sepak bola, yang merupakan impian dan kegemarannya semenjak kecil adalah dilihat dari nama anak pertamanyanya,yaa..... aku, namaku sendiri. Nama ku adalah bukti betapa apah ingin aku dapat mewujudkan impiannya. Namun, jujur saja aku tidak menyukai sepak bola dan kakiku tidak begitu lincah dalam mengocek dan mengiring bola. Kakiku memang kuat namun hanya kuat dikala aku berlari dan mendaki gunung saja.
Banyak sekali perbedaan mencolok antara aku dan apah, apah yang sangat suka matematika sedangkan aku tidak. Apah yang sangat suka berita aku suka kartun. Apah yang sangat suka bekerja dan sedikit tidur, aku sangat pemalas dan suka sekali tidur. Apah pernah melihat dan mendengar khabar bahwa bebepa temannya yang bekerja dikementrian, menjadi pesepak bola nasional, penjabat daerah dan pengusaha sukses. Tapi, apah hanya diam dan tersenyum saja. Laki-laki yang tak sempat menyelesaikan sekolah di bangku SMP itu karna tidak memiliki biaya dan hidup jauh ditanah yang jauh dari keramain hanya berhenti di sana saat teman-temannya jauh melangkah menunaikan pendidikannya. Aku tahu apah anak yang cerdas pada masa kecilnya, dan aku tahu apah memiliki kesempatan yang berbeda dengan sahabat sahabatnya. Namun, apahku begitu luar biasa dalam memembesarkan kami ber-6 Apahku yang selalu bermuka teduh dan penuh rasa iba serta sayang. Yang selalu sedikit tidur dan tidak pandai berenang sama sekali dan sangat takut jika kami bermain disungai dan pantai. Apah yang selalu ku rindu mencium tangan dan kakinya.

Edisi apah 12:10 pm 14_6_13 frid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai