PERGORBANAN ATAS CINTA
PENGORBANAN
ATAS CINTA
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang ( Q.S Ali Imran 3:31)”
Imam Ghazali
mengibaratkan perjalanan kehidupan manusia di dunia ini layaknya musafir.
Sesungguhnya sebagai seorang musafir, tentulah kehidupannya tidaklah kekal. Dia
berjalan menuju sebuah tempat, dan dimana tempat itu adalah akhirat. Sedangkan
waktu yang diperlukan dan digunakan relatif singkat. Akhirat itulah kehidupan
yang sesungguhnya, karena tidak ada batas dan akhirnya. Maka, menurut Imam Ghazali
manusia itu sungguhlah beruntung karena ia mampu menempatkan kehidupan
akhirat melebihi prioritas kehidupan di
dunia layaknya musafir itu.
Sesungguhnya mengenal
kehidupan akhirat menjadikan manusia cinta beramal shaleh dan berbuat kebajikan
sesamanya serta tumbuh rasa cinta yang
mendalam kepada Rabb-Nya, Allah swt. Dalam mengarungi kehidupan, Imam Ghazali
tidak menggunakan kata atau rasa “takut”. Tetapi, lebih pada cinta kepada
Allah. Rasa takut membuat seseorang menjauh. Tetapi, rasa cinta membuat
seseorang merasa selalu ingin dekat dengan Rabb-Nya. Kita akan memahami, bahwa
manusia yang tekun beribadah berarti berkobar rasa cintanya kepada sang pencipta , Allah swt. Semakin
manusia mencintai Rabb-Nya, semakin ingin ia dekat dan bertemu dengan Rabb-Nya.
Dan, demikian juga sebaliknya.
Jelaslah, kenapa
menghadirkan cinta itu penting dalam berislam dan beriman.
Sesungguhnya, cinta
selalu identik dengan perngorbanan. Dan, Cinta selalu berdampingan mesra dengan
pilihan. Kehidupan dan cinta selalu menghadirkan pilihan yang membingungkan,
seperti halnya kita memilih untuk taqwa dan ingkar kepada Allah swt. Tentunya
dalam menentukan pilihan akan ada pengorbanan yang mesti kita lakukan. Sejatinya, pengorbanan adalah harga yang
harus kita bayar.
Kita tidak akan lupa
bagaiman rasa cinta yang menghiasi keimanan para generasi sahabat. Bagaimana
pergobanan cinta yang harus mereka bayar karena telah berimana kepada Allah,
mengikuti ajaran yang telah di bawah oleh Baginda Rasulullah saw. Bagaimana seperti
sejatinya pergorbanan Mush’ab bin Umair yang pada masa remajanya yang paling
diidamkan oleh umumnya remaja yang hidup di masanya. Hidup berlimpah kekayaan,
tampan, cerdas dimanjakan orangtua, diingin dan diidamkan oleh banyak perempuan
serta dihargai oleh masyarakat di lingkungannya karena berasal dari keluarga
terpandang dan banyak memberikan solusi dalam majelis-majelis.
Beberapa waktu setelah
Mush’ab masuk Islam, dan pada satu kesempatan hadir dalam majelis Rasulullah
saw bersama sahabat-sahabatnya, mereka menundukan dan memejamkan mata. Sebagian
menangis haru melihat penampilan Mush’ab yang memakai jubah usang yang bertambal-tambal.
Rasanya belum lama berselang ketika mereka melihat Mush’ab yang bagaikan bunga
di taman, begitu cemerlang memikat dan menebarkan aroma wewangian di sekitarnya. Tetapi, justru
inilah yang memunculkan pujian Rasulullah saw atas dirinya, Rasulullah saw bersabda “ dahulu aku melihat
Mush’ab ini tak ada yang mengimbanginya dalam memperoleh kesenangan dari
orangtuanya. Tetapi, semua itu ia tinggalkan karena cintanya pada Allah dan
Rasul-Nya”.
Sungguh, begitu luar
biasa pengorbanan atas cinta yang telah di lakukan Mush’ab bin Umair ra.
Seandainya saja beliau memilih untuk hidup senang dan berada dalam keadaan yang
berkelimpangan kemewahan tentu saja bisa ia dapatkan. Namun, semuanya ia
korbankan karena lebih memilih kesenangan akhirat. Ia memilih atas dasar cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya. Salah satu contoh kisah indah akan pengorbanan
cinta yang demikian indahnya.
Dan begitu banyaknya
kisah pengorbanan atas dasar cinta dalam menuai keimanan kepada Allah.
Semoga kita termaksud
menjadi hamba-hamba Allah yang senang memilih jalan pertemuan menuju
Jannah-Nya. Amin.
“……Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah
kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam (Q.S Al Baqarah 2:132)”
Ardiles, UNP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar