THIS WAY
This
Way
Perjuangan
itu…
Dirintis
oleh orang-orang alim
Diperjuangkan
oleh orang-oraang ikhlas…
Dimenangkan
oleh para pemberani…
(dari The Way to Win by Solikhin Abu Azzuddin)
Saat timbul
keinginan untuk kuliah di dalam diri. Memang begitu banyak pertanyaan yang
hadir baik didalam hati dan juga pikiran. Kemampuan diri dan juga kemampuan
orangtua adalah tolak ukur pertama yang akan menjadi landasan untuk melangkah
ke tahap selanjut.
Hadir sebagai
anak pertama di dalam keluarga memang tidaklah mudah. Seolah-olah kita menjadi
martil atau peluru pertama yang akan menembus benteng pertahan kedua orangtua.
Ketika pukulan pertama mampu menjatuhkan diding atau sekat yang menghalangi,
maka mudah saja untuk peluru atau pukulan selanjtu meleset dan berlalu.
Demikian juga
yang saya alami ketika mengutarakan niat untu kuliah kepada orang tua. Berat
rasanya. Namun, saya merasa saya perlu kuliah. Ntahlah, dorongan apa yang
membuat tekad saya demikian besar untuk kuliah. Hanya saja, rasa itu demikian
kuat. Padahal jauh sebelum saya duduk dibangku SMA, tepatnya saat masih duduk
di bangku sekolah dasar. Tidak ada keinginan untuk melanjutkan sekolah ke
bangku SMP. Saya mengerti betul saat itu kondisi ekonomi keluarga. Sebagai anak
pertama di dalam keluarga tentu saja saya lebih peka daripada adik-adik saya
yang masih kecil-kecil.
Saat itu,
dibenak saya hanya ingin bekerja dan meringankan beban orangtua, saya ingin
membantu keduannya. Saya ingin adik-adik sayalah yang dapat melanjutkan
sekolah. Sudah menjadi hasrat saya untuk bekerja dan pergi merantau setamat SD.
Namun, niat itu buyar dan hilang bersama waktu. Takala saya tamat dan lulus
dengan nilai begitu memuaskan sekolah. Sampai rasa iseng dan coba-coba untuk
tes masuk di SMP favorit di daerah saya, malah saya lulus dengan nilai begitu
luar biasa. begitulah seterusnya, berlanjut dan terus berlanjut hingga duduk di
bangku SMA.
Kala itu, yang
ada dipikiran saya hanya ingin cepat-cepat bekerja, ingin segara memeggang uang
sendiri, ingin rasa memberikan kepada kedua orangtua uang hasil keringat dan
jerih payah sendiri. Ketika duduk di bangku SMP kembali muncul tekad di dalam
diri, setelah ini ingin bekerja. Cukup sudah membuat orangtua kelelahan mencari
uang siang dan malam. Namun, lagi-lagi semua terjadi tanpa di sadari. Bagaimana
tidak, saat semua teman-teman sebayaku sibuk memikir untuk masuk di SMA mana,
saya malah punya kesempatan untuk memilih SMA mana yang saya inginkan. Saya
bisa memilih dengan bebas tanpa perlu repot-repot mendaftar layaknya
teman-teman yang lain. Bagaimana bisa saya menolak hal yang demikian bukan?
Tak lama rasanya, waktu tiga tahun berlalu
dengan cepat. Saya punya tekad seperti masa-masa sebelumnya, setelah lulus SMA
ingin segera bekerja. Namun, jalan takdir membawa kearah alur yang tak pernah
saya bayangkan. Untuk kesekian kalinya Allah menunjukkan kuasanya. Saya lulus
di dua Universitas yang berbeda dan memperoleh dua beasiswa selama kuliah.
Untuk kesekian kalinya saya harus memilih. Memilih diantara dua pilihan yang
sama-sama sulit bagi saya untuk menolaknya. Dan pada akhirnya saya kuliah
dengan program beasiswa bidik misi di
Universitas Negeri Padang dengan Jurusan Akuntansi. Sungguh perjalanan takdir
yang luar biasa, dan inilah jalan yang telah Allah pilih dan takdirkan untukku.
Sampai hari ini,
saya hanya berusaha melakukan yang terbaik, saya berusaha menjalani dan ingin
mengakhiri setiap kisah yang saya lalui dengan penuh keindahan dan keikhlasan.
Saya hanya ingin berbuat yang terbaik dan pada akhirnya Allah berikan hasil
yang terbaik, saya hanya ingin menjalaninya penuh gagah berani dan berarti
hingga pada akhirnya Allah berikan berkah-berkah yang terus mengalir tiada
hentinya. Sungguh inilah jalanku, jalan yang ku pilih dan Allah takdirkan aku
melaluinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar