setting

My Story : ARDILES: Selayaknya

Selayaknya

SELAYAKNYA
By. Ardiles
Adikku

Selayaknya kita menangis, jika ada suatu masa atau tindak yang tak mengenakan hati terjadi pada diri. Selayaknya kita menangis, jika ada sesuatu yang membuat kita merasa sedih dan tak mampu menahannya. Selayaknya kita berdiam diri jika ada sesuatu yang menganjal dan tak mengenakan hati terjadi pada kita. Siapa yang tahu, bahkan saat semuanya dalam menghujam hati, siapa yang tahu kisah duka yang ada dalam tabir qalbu. Siapa yang tahu kita punya sepenggal kisah yang tak mampu membuat kita menceritakan kepada siapapun, termaksud kepada kedua orangtua tak mampu menceritakannya. Sungguh tak mampu. Cukup, dan cukup sampai di sana. Tak ada tempat bercerita atau mengadu yang dapat memahami apa yang mengepul dihati, siapapun itu. Tak ada yang mampu meresapi kesedihan hati. Cukup, cukup hari itu. Dan cukup sampai di masa itu. Hari-hariku selalu ku habiskan dengan menyendiri, dan menangis. Selalu saja hidup dalam ketidakpercayaan, selalu. Masa-masa itu, masa dimana aku tak begitu mengenal Tuhanku, masa di mana aku hanya menyadari aku seorang diri. Aku tak punya teman, aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Bahkan ketakutan itu masih lekat dan tetap bernaung dalam ingatanku, apapun itu aku tidak akan pernah menceritakannya kepada siapapun, biarlah menjadi rahasiaku sendiri.
Hari itu, hujan turun dengan derasnya, hari itu adalah tangisku yang terakhir yang ku janjikan atas diriku sendiri. Masih ku ingat, siapa saja yang hadir dan menemaniku dalam kesedihanku yang begitu mendalam. Sahabatku, sahabatku yang menguatkanku, sahabatku yang memelukku dengan erat. Dan sahabatku yang menghapus air mataku. Namun, air mata yang jatuh pada hari itu tak sederas air mata ketika melihat tanah merah pekuburan laki-laki tua yang begitu ku rindu sekian lama. Dan baru hari itu, setalah sekian lama aku hidup di dunia, Sembilanbelas (19) tahun aku hidup terpisah, dan baru kali pertamanya saat itu aku menemani kakek di rumah sakit. Dan disanalah untuk kali pertamanya dari sekian lama aku hidup mengkhatamkan Al-Qur’an.
Dua kesedihan dan dua tangis itu membuatku tersadar, tersadar sejenak melihat jauh kebelakang. Mengingat wajah kedua orangtua yang semakin tua, semakin bertambah kerutan diwajahnya, dan semakin bertambah rambut yang memutih dikepala keduanya. Kematian kakek, ayahnya amah. Membuatku tersungkur ketika aku datang, aku tak bisa menatap wajahnya untuk terlahir kalinya. Namun, itu jauh lebih baik. Sedangkan Amah yang datang jauh terlambat setelahku, mungkin 10 tahun sudah tak melihat wajah kakek hingga dihari akhirnya, Amah tak sempat melihat wajah kakek. Masih kisah yang telah lalu, tangis kehilangan seorang sahabat, tangis kehilangan seorang yang disayang membuatku semakin menyendiri. Sampai aku lupa akan keberadaan adik-adikku. Aku tak pernah memperdulikan keberadaan adik-adikku. Aku sibuk dengan ketakutan dan aku sibuk dengan duniaku sendiri. Sungguh aku lupa betapa adik-adikku begitu menyayangiku. Saat kesedihan dan tangisku begitu dalam, saat aku tersungkur dan terjatuh maka saat itu aku membayangkan wajah kelima adikku. Membayangkan mereka dengan rasa sayang dan kerinduan. Adik-adikku lah yang membuatku tetap tegar, adik-adikkulah yang selalu menjadi obat pelarut ketakutanku yang sampai saat ini belum dapat hilang.
Aku bahkan lupa, lupa pada masa-masa aku larut dalam kegoisanku diriku sendiri, yang tak mampu mengungkapankan masalah dan dukaku. Walau ku sakit, dan bahkan aku hampir mati. Aku tak akan perna menceritakannya kepada siapapun, selain hanya mengeluh yang dapat ku lakukan.  Air mata, bahkan setalah itu aku tak pernah membiarkan siapapun menghapus air mataku. Aku tak pernah mengizinkannya, seperti yang ku katakana termaksud amah dan apah. Bahkan setalah itu aku tak pernah mempelihatkan air mataku jatuh dan mengenangi wajahku kepada siapapun lagi. Tak akan pernah. Termaksud kepada adik-adikku, yang menjadi penghapus duka dan kesedihanku. Aku begitu malu pada diri sendiri. Saat adik-adikku punya kelemahan dan kekurangan di diri mereka masing-masing aku tak pernah peduli dengan mereka, aku tak pernah memeluk bahka mencium kening mereka. Aku tak pernah menanyakan masalah mereka, aku tak pernah mau tahu pada yang terjadi dengan mereka. Karena bagiku, masa-masa kecilku telah menghimpun dendam yang telah tertanam kuat, dan semakin lama dendam itu berubah menjadi kebencian yang dalam, terakumulasi menjadi sakit hati yang membuatku semakin menutup diri.
Tapi, adik-adikku membuatku tersadar, membuatku menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak membuatku menangis, ketika aku duduk diantara mereka, satu persatu diantara kami apah tanyakan apa cita dan mimpi kami. Dengan polos dan penuh kecerian terpancar diwajah adik-adikku, membuatku mendesah dan tertunduk Manahan senyum dan geli melihat mereka tertawa cekikikan. Sedangkan aku, aku tak punya mimpi. Mimpi telah ku kubur bersama sakit hati dan kebencian yang dalam. Dengan acuh aku menjawab tak bersemangat kepada apah “ardi ngak punya cita-cita Pah”. Sontak apah marah dan membentakku. Adik-adikku langsung diam dan terkejut menatapku. Kemudian amah langsung mengalihkan pembicaraan menanyakan mimpi dan cita-cita adik-adikku. Aku hanya tertunduk kesal, diam hanya mendengarkan ocehan adik-adikku. Dengan gembira dan girangnya mereka mengatakannya kepada apah dan amah. Dan seketika itu juga membuat tersadar dan menangis dalam tundukku, aku bertanya di dalam hati “siapa yang akan mewujudkan mimpi mereka ketika Apah telah tiada?”Aku berjalan dan pergi, menangis dan membenamkan wajahku ke dalam bantal sedalam-dalamnya. “siapa yang akan mewujudkan mimpi mereka dengan keterbatasan yang mereka miliki?”. Sampai saat ini kata-kata itu masih tergiang jelas didalam ingatanku.
Aku bukanlah kakak yang baik bagi adik-adikku, bahkan jauh sebelum ini. Aku adalah anak tertua dari enam bersaudara. Namun diantara kami berenam akulah yang seringkali menyakiti hati dan membuat amah dan apah berdesih. Bahkan teramat sering membuat apah marah dan membuat amah menangis. Tak terbayangkan dukaku jika melihat amah menangis, sampai suatu waktu aku juga melihat apah menangis. Sungguh serasa teiris hati di kala itu. Tergiang dan terus tergiang tawa adik-adikku yang dekil dan polosnya ketika mengutarakan asanya kepada kedua orangtuaku. Hari itu, kuputuskan menghapus lukaku, membenamkan kesedihanku sejenak, menguburnya dalam-dalam. Menggingat mimpi adik-adikku yang sangat lucu. Aku berusaha memaafkan diri dan kesalahanku. Aku mulai merajut mimpi adik-adikku untuk menghapus dukaku. Aku mulai berusaha membuktikan kapada apah yang dapat ku lakukanku. Ku putuskan menjadi yang terbaik dengan segala kekurangan dan keterbatasanku untuk apah dan adik-adikku. Hari itu, menjadi sepengal cerita yang mengubah sebagian hidupku. Menghapus jejak luka dan kebencian perlahan-lahan. Dan masa-masa itu benar-benar aku buktikan kepada apah, dan demi cinta amah yang teramat dalam kepadaku.
Menangis, di hari berlalunya kakek. Saat tangis dan serak kering tengerokan belum hilang dari lamanya tangis dan kesedihan yang menjalar. Seakan membius tubuh, membuat tubuh lemas dan tak bertenaga. Di sela-sela itu juga aku membuat amah menangis untuk kesekian kalinya. Aku membentak amah, membentak saat hatiku mulai larut dalam kesedihan. Saat hati begitu rapuh maka rasa benci dan sakit itu kembali terkuak. Seakan ingin meluapkan kesedihan yang begitu dalam, mencuat bersamaan dengan rasa kehilangan. Hari itu juga, dua kali aku membuat amah menangis, menangis dalam marah karena ucapanku, dan menangis karena melihatku menangis mengibah dan tersungkur. Hari itu, ada adikku yang melihat, sungguh aku menyesal. Bukankah jauh hari sebelumnya aku tak akan memberikan contoh yang buruk kepada adik-adikku, bukankah aku tidak akan pernah terlihat lemah bahkan menangis dihadapan adik-adikku. Hari itu adikku hanya terdiam melihat ulah untuk kesekian kalinya. 
Sekilas pandang bayang wajah adik-adikku yang lainnya menghantam ingatanku. Teringat mimpi-mimpi mereka, teringat kelemahan dan kekurangan mereka. Teringat keterbatasan mereka. Terang saja, seketika ingatan kembali melompat menggingat kedatangan amah yang tak sempat melihat wajah kakek sebelum disemayang ke liang lahat. Menyedihkan ketika tak dapat menjumpai wajah orang yang kita cinta bahkan teramat berarti dalam hidup kita, hingga tak sempat melihat wajahnya diakhir hayatnya. Itulah yang amah alami, sedangkan aku. Aku takut jika dihari akhirnya amah dan apah, aku tak hadir dan mampu melihat keduanya, bahkan tak menemani keduanya di di dalam masa sakratul mautnya. Sungguh terbayang olehku dipenghujung hidup keduanya. Namun aku yakin suatu saat nanti aku akan jauh meninggalkan kedua, bahkan teramat jauh terpisah ruang dan waktu bersama dengan lainny. Pertemuan pertama di dunia, pertemuan yang tak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya, pertemuan yang tak akan pernah menghimpun dan mengumpulkan kami dalam satu naungan cinta untuk kedua kalinya, masa dimana akan hidup terpisah, ntahkah dalam masa kenistaan atau masa dimana keberkahan dan kecintaan terhimpun untuk kedua kalinya di suatu masa nanti.
Menyedihkan sekali, aku semakin tertunduk bersama duka dan dosaku. Terus saja mengalir menyesakan ingatan tentang dosa-dosaku. Adik-adikku, sungguh bukankah aku kakak kalian yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kalian, bukankah seharusnya aku yang memotivasi kalian, bukankah seharusnya aku yang memberikan contoh terbaik bagi kalian, bukankah seharusnya mengajarkan cara mencintai dan mengormati kedua orangtua kita, bukankah seharunsya aku sebagai kakak kalian mengajak kalian untuk mendoakan amah dan apah. Namun, sungguh aku selalu saja kecolongan. Adikku yang jauh tiga tahun dariku, ternyata tumbuh lebih dewasa dariku, tumbuh dengan pesona kebijakan dan kewibawahan yang lebih cepat dari dari masaku. Mengajarkanku cinta, keromantisan yang membuat kedua orangtua kami menangis haru. Adikku, yang tumbuh dengan kekurangan, dan keadaan yang sangat berbeda. Hadir dan mengajarkanku tentang bagaimana menjadi seorang anak selayaknya, mengajarkanku bagaimana memuliakan kedua orangtua, mengajarkanku memperoleh ridhanya, dan mengajarku bagaimana mencintai keduanya secara sepatut dan semestinya.
Adikku, tak pernah mengeluh, tak pernah menangis, tak pernah meminta, tak pernah memilih, dan tak pernah membentakku dan kedua orangtuaku. Adikku yang tak pernah menolak permintaan orangtuaku, adikku yang tak pernah melawan kedua orangtuaku. Bahkan adikku begitu mengugah hati kedua orangtuaku, membuatku terharu bahkan terkagum akan ulahnya yang membuat amah dan apah begitu merindukannya.
Semuanya, bahkan amahku dari adiknya apah dan semuanya terharu akan kesopanannya. Kagum dengan kelembutan tutur dan sikapnya. Bahkan membandingkan denganku yang kerap bersikap dingin dan begitu pendiam serta terkesan angkuh dan sombong. Masih ku ingat, hari itu teman-temannya bertanya tentang dirinya dan aku, kenapa kami begitu berbeda, membandingkan diriku dengannya, membandingkan segala kelemahan dan kekurangannya dengan kelebihanku hingga mempertanyakan “apakah benar aku adalah kakaknya?”.
Hari itu, adikku yang tak pernah malu dan merasa rendah diri serta berputus asa dengan keterbatasaan hanya terdiam. Sungguh hatiku terhenyak, ingin sekali marah. Tapi, melihatnya yang tetap tersenyum membuatku menjadi lebih tenang. Spontan aku membela dan menjawab peryataan dan pertanyaan yang lainnya seolah bercanda “aku dan adikku memanglah berbeda, tapi ia memiliki sesuatu yang istimewah, bahkan memiliki banyak hal yang tak ku miliki. Aku adalah aku, dan dia adalah dia. Namun aku tetaplah kakaknya dan dia adikku”. Kontan semua diam, dan tak ada sangahan, terang saja aku berbicara cukup keras.
Hari menjelang sebelum keberangkatannya, hari di mana ia telah lulus SMA dan ingin sekali kuliah dan tinggal di Jogja. Aku dan kedua orangtua merasa ragu melepasnya, bahkan teramat takut. Adik keduaku ini teramat berat dilepaskan oleh amah dan apah. Selain keterbatasannya, ia adalah anak yang begitu disayang amah dan apah kerena segala kelebihan dan kekurangannya. Akulah yang menjadi senjata, sebagai senjata yang membujuk amah dan apah. Ia begitu tahu, hanya aku yang mampu meluluhkan hati amah dan apah, dan apah tak mungkin bisa menolak.
Se-ember air telah dipersiapkannya di depan rumah, dengan sumringah ia hampiri dan datangi amah, lalu diajakknya pergi dan duduk di depan rumah. Di dudukkannya amah, dijulurkan kedua kaki amah, dengan perlahan ia cuci satu persatu kedua kaki amah, sambil meminta izin dan maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat semenjak ia lahir hingga saat menjelang hari akan berangkat, meminta keridhaan dan doa amah.
Adikku, berkaca-kaca mata amah dan apah ketika menceritaknnya. Adikku yang selalu meniruku, bahkan teramt banyak yang ia tiru dari, bahkan ia mampu melebihi dan melakukannya jauh lebih baik dariku, bahkan teramat jauh meninggalkanku yang berjuang dengan keterbatasaan dan halangannya. Adikku yang kini serorang ikhwan, adikku yang terlampau sering menasehati dan menginspirasiku. Semoga Allah menjaga keimanan dan keistiqomahanmu, semoga aku, engkau dan saudara serta saudari kita yang lain dapat mempersembahkan surga terutuk apah amah dan apah.
25 september 2013. 8.32 am


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai